Kamis dalam Pekan Biasa X, 15 Juni 2017


2Kor 3: 15,4:1.3-6-11+ Mzm 85+ Mat 5: 20-26





Lectio


Suatu hari bersabdalah Yesus:  'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.





Meditatio


'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga', tegas Yesus kepada para muridNya. Mengapa Yesus mengatakan hal itu? Apakah artinya para murid Yesus harus mempunyai hidup yang lebih baik dan benar daripada kaum ahli Taurat dan orang-orang Farisi? Bukankah malah mereka itu menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat, yakni duduk di kursi Musa, yang mengandaikan memang mereka itu hidupnya sudah lebih baik daripada orang-orang lainnya? Bukankah karena kehebatan mereka, mereka diijinkan duduk di kursi Musa?


Kata Yesus: 'kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'.  Di sini Yesus mengajarkan norma-norma yang baru, bukan hanya mereka yang membunuh saja yang dihukum, tetapi barangsiapa saja yang marah, berkata tidak baik terhadap saudaranya, itupun harus dihukum. Mengapa? Karena kemarahan dan cacian dapat menjadi sumber dosa yang lebih besar dan akibat dari dosa tersebut menjadi hukuman yang harus ditanggungnya nanti. Janganlah sebuah dosa menimbulkan dosa lain, bahkan yang lebih berat dan membawa kebinasaan. Yesus menegaskan tentang radikalisasi dalam pemurnian diri. Janganlah dosa-dosa besar, dosa sekecil apapun hendaknya tidak dilakukan para murid.


'Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu'. Hati yang memendam kemarahan tidak layak di hadapan Allah. Bukan hanya terhadap Allah, tetapi juga pada sesama, maka 'segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara'. Maksud dari Yesus ini tentunya alangkah baiknya kalau seseorang segera menyelesaikan persoalannya dengan lawannya, daripada dibawa pada pengadilan yang nantinya tentu akan berakibat lebih fatal pada salah satunya. Bisa juga dalam pengertian yang lebih mendalam, berdamailah dengan sesama sementara hidup ini berlangsung, jangan sampai terlambat, sehingga dosa kesalahan yang membelenggu membawa seseorang pada kebinasaan.


Kesukaan menyimpan dosa-dosa kecil, dan tidak adanya keinginan berdamai dengan orang lain, karena memang merasa diri benar dan sudah melakukan aneka kewajiban inilah yang sepertinya menjadi kharakter kaum Fairisi dan para ahli Taurat. Keberanian para murid, dan tentunya kita semua, melakukan radikalisasi diri dalam pengudusan hidup akan membuat kita semua akan hidup lebih baik dari kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Tentu, yang lebih utama bagi pengikut Kristus adalah melakukan perbuatan kasih, daripada aneka persembahan dan kewajiban agama yang hanya sekedar supaya dilihat orang dan kelihatan suci. Sangatlah baik kalau kita berani berusaha dan berusaha untuk keluar dari gelap menuju terang, supaya 'terangNya bercahaya dalam hati kita, dan kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus' (2Kor 4: 6).






Oratio


Ya Yesus, terangilah hati dan budi kami agar mampu mengampuni sesama, supaya dengan hati yang bersih kamipun layak mempersembahkan hidup kami di hadapanMu. Teguhkanlah hati kami juga agar setia dalam menguduskan diri. Amin






Contemplatio


'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga',










Oremus Inter Nos

Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012