Rabu dalam Pekan Biasa IX, 7 Juni 2017

Tb 3: 1-17 + Mzm 25 + Mrk 12: 18-27

 

 

 

Lectio

Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!"

 

 

Meditatio

Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mengapa mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan? Itu hak mereka. Kepercayaan adalah hak azasi setiap orang. Mereka bertanya kepada-Nya: 'Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu'. Semuanya itu tersurat dalam kitab Ulangan memang (25: 5-9). Semuanya ini masih terpengaruh oleh dunia patriakhal yang melihat kaum laki-laki yang harus didahulukan. Apalagi kalau ada aturan juga tentang adanya uang ganti yang telah diberikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Perempuan yang telah ditinggal almarhum suaminya tetap menjadi milik dari keluarga suami keberadaan uang ganti yang diterima oleh keluarganya.

'Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'. Sebuah pertanyaan yang bagus. Pertanyaan  itu diajukan karena mereka hanya berdasar pada pengalaman insani sekarang ini. Ketidakpercayaan mereka akan kebangkitan memang melandasi persoalan mereka, dan menutup segala kemungkinan yang ilahi dan indah itu dinikmati oleh umatNya.

'Kamu sesat', tegas Yesus kepada mereka, 'justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah'. Yesus tahu benar, bahwa mereka bertanya-tanya seperti itu karena memang kurangnya pemahaman mereka akan kitab suci dan kuasa Allah. Kebangkitan adalah salah satu poin yang dibicara dalam kitab suci, dan itulah yang memang merupakan kuasa Allah sang Kehidupan. 'Apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga'. Kehiduan pasca-kebangkitan tidaklah sama dengan kehidupan insani selama kita di dunia ini. Tidak ada lagi ketertarikan dan keterikatan satu manusia dengan lainnya. Bukankah juga salah satu tujuan perkawinan adalah penambahan keturunan dalam sexulitas? Semuanya tidak ada lagi terjadi di dunia kebangkitan orang-orang mati, karena memang mereka tidak membutuhkannya dan mereka tidak mempunyai lagi aneka kecenderungan insani.

'Tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup'. Sebab memang di hadapanNya semua hidup. Dialah sang Kehidupan itu sendiri. Kalau Paulus berkata, bahwa Tuhan Allah kita itu adalah Allah atas orang hidup dan mati, sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada umat di Roma (bab 14), karena sekalagi di hadapanNya semua hidup dan dibangkitkan.

'Kamu benar-benar sesat!'.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, semoga kami semakin hari semakin merindukan kebangkitan bersamaMu. Semoga rahmat kebangkitan yang telah kami terima berkat sakramen baptis semakin hari semakin menyemangati kami untuk tinggal bersamaMu. Amin.

 

 

Contemplatio

'Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012