Sabtu Pekan Biasa X, 17 Juni 2017

2Kor 5: 14-21 + Mzm 103 + Mat 5: 33-37

 

 Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'.

 

 

 

Meditatio

Suatu hari bersabdalah Yesus: 'kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan'. Mengapa orang berani bersumpah di hadapan Tuhan? Apakah dia tidak percaya pada diri sendiri, atau hanya ingin menunjukkan keteguhan dirinya di hadapan banyak orang? Atau memang dia juga mau mengandalkan kekuatan Tuhan dalam melaksanakan sesuatu yang disumpahkannya di hadapan Tuhan? Bukankah dengan kekuatan tinggi dan kejujuran jiwa seseorang dapat mempertanggungjawabkan dirinya sendiri? 'Tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun'. Jangankan bersumpah di hadapan Tuhan, di hadapan segala ciptaan yang ada saja, Yesus menghendaki agar kita tidak mudah bersumpah. Bukankah memang kita ini tidak berkuasa atas hidup kita sendiri? Kita malah harus mempertanggungjawabkannya. Karena itu,  'jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'. Karena memang pelanggaran tugas-tugas yang dipercayakan kepada seseorang memang selalu terwarnai kepuasan diri.

Kalau kita ini adalah orang-orang yang telah didamaikan oleh Allah dalam Yesus Kristus (2Kor 5: 14-21), masihkah kita harus bersumpah di hadapanNya? Bukankah sebagai orang-orang yang tahu berterima kasih, baiklah kita siap sedia mempertanggungjawabkan segala kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada kita? Kalau ada kelemahan kita di sana-sini, bukankah kita juga diundang untuk berani datang kepadaNya dan memohon bantuan daripadaNya. Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu?

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar berani mempertanggungjawabkan kepercayaan yang Kau berikan pada kami. Tidak mudah bersumpah untuk menutupi kelemahan-kelemahan kami, tetapi berani datang memohon belas kasihMu. Amin

 

 

 

Contemplatio

'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'.

 

 



Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012