Selasa dalam Pekan Biasa IX, 6 Juni 2017

Tb 2: 9-14 + Mzm 112 + Mrk 12: 13-17

 

 

 

Lectio

Suatu hari disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.

 

 

Meditatio

Suatu hari disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Hebat juga mereka dalam menjerat dan membunuh sesama. Orang-orang Farisi adalah kaum religious dan tahu banyak tentang kitab suci, sedangkan kaum Herodian adalah mereka antek-antek pemerintah atau raja yang siap mempersoalkan orang-orang yang tidak taat pada hukum sipil.

'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran'. Kata-kata yang manis dan indah yang keluar dari mulut kaum Herodian dan Farisi, tetapi tidak keluar dari lubuk hati manusia yang terdalam. Kata-kata semacam ini juga masih sering kita dengar: Kata pujian dan sanjungan yang malah sering menjatuhkan orang lain. 'Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?', sebuah pertanyaan yang benar-benar menjebak dan menjerat. Seseorang dimasukkan dalam sebuah pilihan yang menjerumuskan. Jangan membayar pajak, akan menjerumuskan Yesus ke hukum sipil yang memang wajib ditaati oleh semua anggota masyarakat; walau tak dapat disangkal bukankah Tuhan Allah yang harus didahulukan, bukankah hanya tertuju kepada Tuhan Allah? Bayarlah pajak, maka kaum Farisi akan segera melawan Yesus karena tidak pro umat Isarel yang dikasihi Tuhan Allah.

Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: 'mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!'. Apakah Yesus tidak pernah memegang uang dinar selama ini?Pasti pernah sepertinya. Yesus menggunakan suatu tehnik handal untuk merobohkan mereka yang melawanNya. Yesus tahu semuanya itu hanya ingin menjerat diriNya. Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: 'gambar dan tulisan siapakah ini?'.

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!', sahut Yesus setelah mereka menunjukkan uang sedinar dengan mengatakan: 'gambar dan tulisan Kaisar'. Sebuah jawaban yang amat-amat bijaksana. Sebagai orang-orang yang dikasihi Allah, maka setiap orang harus taat dan merunduk kepada Tuhan, dan melakukan segala kehendakNya; demikian juga sebagai anggota masyarakat maka wajiblah setiap orang tetap taat kepada kaisar, sebab memang pada waktu itu Yahudi dalam pendudukan kaisar Romawi. Kepercayaan kepada Tuhan Allah memang tidak membungkus seseorang untuk melepaskan diri dari kenyataan hidup di mana dia berada, malah sebaliknya, dia harus makin mampu menikmati kenyataan hidup yang seringkali berbeda dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Iman membuat seseorang tinggal di rumah yang berdirikan di atas batu yang kokoh.

Mereka sangat heran mendengar Dia.

Mencari kesalahan orang lain memang begitu mudah, apalagi kalau memang kita secara intensif mau menjerumuskan seseorang yang kita maksudkan. Tobit yang banyak berbuat baik mendapatkan tamparan keras dari isterinya ketika dia memaksa isterinya melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.  'Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!' (Tb 2: 14), teriak isteri Tobit yang memang seharusnya tidak perlu terjadi kalau memang Tobit tidak berkeras hati. Kebajikan seseorang hendaknya selaras dengan segala perilakunya. Penyebab kekacauan adalah karena tidak ada seseorang pun yang mau mempersalahkan dirinya, kata santo Doroteus yang mengingatkan kita agar mempunyai kerendahan hati dalam setiap perilaku kita.

 

 

Oratio

Ya Yesus, InjilMu hari mengajarkan kami untuk berani melakukan apa yang harus kami lakukan, begitu pula berani untuk kebenaran seperti yang Engkau sendiri ajarkan kepada kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!'

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening