Senin dalam Pekan Biasa IX, 5 Juni 2017

Tb 2: 1-8 + Mzm 112 + Mrk 12: 1-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus mulai berbicara kepada mereka, para imam kepala, tua-tua bangsa Yahudi dan para ahli Taurat dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus mulai berbicara kepada mereka, para imam kepala, tua-tua bangsa Yahudi dan para ahli Taurat dalam perumpamaan: 'ada seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kebun anggur adalah miliknya. Sang pemilik adalah seorang yang berada dalam sosio-ekonomi. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

Ketika sudah tiba musimnya, pertama ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kedua, kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Ketiga, ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Keempat, kelima dan seterusnya, dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Terakhir, tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: anakku akan mereka segani. Baik kali sang pemilik anggur ini. Dengan sabar dan setia dia percaya masih adanya kemauan baik dari para penggarap yang dipercayainya itu.

Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Anaknya pun dibunuh oleh para penggarap. Membunuh anak berarti melawan secara frontal sang pemilik kebun anggur itu sendiri. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Itulah yang pasti akan dikerjakan oleh sang pemilik kebun anggur. Kesetiaan Tobit kepada Tuhan Allah (Tb 1 dan 2) dalam menghayati imannya memang tidak menjadi milik dari para penggarap. Memang para penggarap hanya sebuah perumpamaan, tetapi kiranya perumpamaan ini memberi pembelajaran, hendaknya kita setia dengan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita, terutama kalau kita yakin Tuhan Allah sendiri telah memberi kepercayaan kepada kita sebagai orang-orang yang dikasihiNya.

'Tidak pernahkah kamu membaca nas ini', tegas Yesus selanjutnya: 'batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'. Perumpamaan itulah yang menggambarkan pelbagai usaha dari Tuhan Bapa di surga yang telah berkali-kali mengutus para Nabi dan HakimNya untuk menyelamatkan umat Israel, orang-orang yang dikasihiNya. Tetapi itulah, kasih ilahi ditolak oleh orang-orang yang berjiwa insani itu. Kasih Allah memang memuncak dalam diri Anak yang diutusNya, tetapi yang nampak memang seperti anak pemilik kebun anggur, tetapi sebenarnya Dia malah menjadi Batu Penjuru yang dibuang oleh orang-orang yang mengerti kitab suci dan mengaku tua-tua bangsa terpilih. Batu Penjuru itulah yang meneguhkan keseluruhan bangunan baru yang dipilih oleh Allah sendiri. Para tukang bangunan lama dibuangNya, sebaliknya Batu Penjuru itulah yang menentukan bangunan baru yang didirikan oleh Allah sendiri. Semuanya itu terjadi karena kemauan dan kehendak Allah, sebuah perbuatan yang sulit dimengerti oleh banyak orang, tetapi itulah kehendak Allah yang membuat segala sesuatu bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

 

 

Oratio

Ya Yesus, ajarilah kami agar berani mendengarkan sabdaMu yang adalah keselamatan bagi setiap orang yang mau percaya kepadaMu. Sebab Engkaulah ujud puncak kasih Allah bagi umat manusia. Amin

 

 

Contemplatio

'Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening