Senin dalam Pekan Biasa X, 11 Juni 2017

2Kor 1: 1-7  +  Mzm 34  +  Mat 5: 1-12

 

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

 

Meditatio

Suatu hari ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Mengapa Yesus mengajar di bukit? Tentunya ingin mempermudah Dia memandang semua murid yang mendengarkan pengajaranNya, atau kiranya juga kita mengerti bahwa bukit telah menjadi gambaran bagi banyak orang, bahwasannya bukit itulah tempat yang lebih dekat ke surga dibanding di tanah datar.

'Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga'. Orang-orang miskin yang berdiri di hadapanNya tentunya adalah orang-orang yang mengandalkan kekuatan dari Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhanlah yang dapat membantu menyelesaikan persoalan hidup mereka, atau bahkan kemiskinan menjadikan Tuhan sebagai harta satu-satunya yang mereka miliki. Bagaimana  mereka tidak mempunyai Kerajaan Allah kalau memang Tuhan Allah sendiri menjadi milik yang mereka agung-agungkan. Mengandalkan  Allah tentunya membuat segala milik Allah menjadi milik mereka.  

'Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur'. Habis gelap terbitlah terang. Yesus memberi harapan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak akan tenggelam terus dalam kedukaan. Sebab bukankah Tuhan Allah sendiri juga menjadi penghiburan bagi setiap umatNya? Paulus  secara istimewa merasakan semuanya itu, sebagaimana dia ceritakan dalam tulisannya yang kedua kepada umat di Korintus: 'terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami. Sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah' (1Kor 1: 3-5).

Hal sama juga dikemukakan Yesus dalam ucapan bahagiaNya: 'berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah'. Semua  orang yang berbuat baik, tetapi bukan semata-mata kebaikan insani, akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa indahnya. Kebaikan itu seperti kelemah-lembutan, kemurahan-hati, kerinduan akan kebenaran, kesucian hati, dan kesukaan dalam membawa damai bagi orang lain. Kebaikan dan kebajikan akan membuat mereka mampu melihat dan memandang Allah, malah mereka akan disebut anak-anak Allah.

'Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu'. Aneka kebajikan yang dapat kita buat memang sudah membutuhkan perjuangan dan kesetiaan; Yesus juga mengingatkan adanya tantangan dan rintangan yang akan terjadi mengingat segala kebaikan dan kebajikan yang kita persembahkan kepadaNya. Perlawanan dunia, sebagaimana diistilahkan Yohanes dalam Injilnya,  semakin hari semakin berat, karena mereka dunia adalah perlawanan dari orang-orang yang menenggelamkan diri dalam kegelapan (Yoh 3: 19-20). Terang memang menjadi lawan hidup meeka.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, janji-janjiMu sungguh indah dan membahagiakan. Ajarilah kami untuk dengan setia mentaati dan menjabarkan janji-janjiMu dalam hidup sehari-hari. Kami percaya janjimu selalu membahagiakan kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat'.

 

 


Komentar

Pos populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012