Senin Pekan Biasa XII, 26 Juni 2017

Kej 12: 1-9  +  Mzm 33  +  Mat 7: 1-5

 

 

Lectio

Pada waktu itu bersabdalah Yesus: 'janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.

 

 

Meditatio

Pada waktu itu bersabdalah Yesus: 'janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi'. Mengapa Yesus melarang para muridNya menghakimi orang lain? Bukankah kita harus berani menegur sesama kita bila memang ada yang berbuat salah, agar tidak tenggelam dalam dosa yang lebih besar? Benar, tetapi hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan sesama kita dalam keseharian hidup ini. Tidak ada seorang pun yang sempurna dalam hidup ini. Memang tak dapat disangkal, hukum balas budi seringkali terjadi dalam hidup bermasyarakat, dan tak dapat disangkal 'dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu'.

Yesus pun menambahkan: 'mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu'. Mengapa kita mudah melihat, bahkan kesalahan orang lain, sedangkan kita tidak mau duduk diam merefleksi diri sendiri? Kita begitu mudah melihat orang haruslah sempurna dan baik adanya, tetapi kita dengan enaknya mencari kepuasan diri. 'Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'. Kita diminta Yesus untuk bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari dengan membekali diri sendiri dengan pelbagai kebajikan, dan bukannya mencari-cari kesalahan orang lain.

Apakah kalau dia orang lain bersalah kita diamkan saja mereka? Bukankah Yesus mengajak kita untuk ikut bertanggungjawab bila ada saudara dan saudari kita bersalah, dan agar tidak tenggelam dalam dosa kita harus berani mengingatkan dan menegurnya? Benar, tetapi kita tidak mencari-cari kesalahan sesama. Kita harus membangun satu sama lain sebagai hidup saudara; kita harus berani memberi kritik juga kepada orang lain, tetapi bukan untuk menjatuhkan orang lain, melainkan untuk membangun dan menyempurnakannya.

Beriman seperti Abraham memang tidak membutuhkan tanda dan bukti ketika dia diminta untuk meninggalkan daerah kelahiran pergi ke tanah yang ditunjukkan Allah (Kej 12: 1-9). Kiranya iman yang sama juga tentunya harus kita gunakan dalam pergaulan sehari-hari. Mungkinkah kita tidak memandang sesama dalam pergaulan sehari-hari? Bukankah kita sering terbentur bergaul dengan orang lain, karena kita dengan mudahnya memandang sesama? Itu wajar memang kita sebagai manusia, tetapi baiklah sebagai orang-orang yang sudah beriman mari kita bergaul dengan sesama dalam atmosfir cinta kasih sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus sendiri, yang tidak membatasi diri dalam pergaulanNya. Dia bergaul dengan semua orang, termasuk dengan mereka yang terpinggirkan dan dijauhi oleh banyak orang. Malah hendaknya kita menemukan Kristus sendiri dalam pergaulan dengan sesama.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar mampu menjadi contoh yang baik dan bijak, dalam memberikan nasihat yang membangun bagi sesama. Sebagai orang beriman yang Kau ajarkan sendiri untuk hidup dalam kasih persaudaraan, sehingga orang lain dapat menemukan Engkau di dalamnya. Amin

 

 

Contemplatio

'Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012