Hari Raya Santa Maria dari Gunung Karmel, 16 Juli 2017

1Raj 18  +  Gal 4: 4-7  +  Yoh 19: 25-27

 

 

Lectio

Pada waktu Yesus bergantung di kayu salib dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

Meditatio

Pada waktu Yesus bergantung di kayu salib dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Tiga orang perempuan yang berjiwa pemberani. Mereka tidak takut dengan para perwira Romawi; atau kehadiran mereka memang malah tidak digelisahkan dan tidak diperhitungkan oleh para serdadu. Apalah yang dapat mereka buat? Bukankah mereka yang tersalib juga sudah dalam keadaan tidak berdaya? Namun tak dapat disangkal, Allah mengangkat yang hina dan dina, yang semuanya itu dikerjakan oleh perbuatanNya yang kudus (Luk 1); dan itulah yang juga menjadi kesadaran Maria dengan melambungkan pujiannya bersama Elizabet, saudarinya.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'ibu, inilah, anakmu!'. Maria diserahi murid yang dikasihiNya. Maria dimintai untuk mendampingi dan menyertai murid yang dikasihiNya itu. Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!'. Namun, Maria diserahkan kepada para muridNya agar mereka berani menerima sang bunda dan belajar daripadanya. Adanya perbedaan penyebutan antara murid yang dikasihi dan para murid menunjukkan bahwa Maria diminta untuk memberi perhatian pada masing-masing pribadi muridNya. Maria diminta untuk menyemangati mereka, bagaimana mengikuti sang Putera dengan setia. Maria diminta untuk memperhatikan pribadi per pribadi, karena kiranya setiap orang akan mampu menjawab ; aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu, sebagaimana yang diucapkan Maria sendiri ketika baru mendapatkan sapaan sang malaikat yang membawa kabar sukacita.

Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Catatan Injil Yohanes ini benar-benar menantang kita untuk berani menerima Maria dengan sepenuh hati, apalagi kalau kita mengakui dan berkata, bahwa murid yang dikasihi itu adalah aku yang hina dan berdosa ini.  Menerima Maria tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah pernyataan untuk bersikap dan bertindak seperti Maria, yang setia mendengar dan menghayati sabda Allah. Menghayati sabdaNya tidaklah memang membuat kita lepas dari kedua kaki kita yang berinjak di bumi ini. Iman tidak membuat kita melayang-layang di langit, malah sebaliknya membuat kita semakin riel dalam hidup konkrit ini. Hanya saja harus kita akui dengan jujur, bahwa 'Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak; dan jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah' (Gal 4: 4-7).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, pesan injilMu hari ini sungguh menyadarkan kami untuk semakin belajar setia mendengarkan dan memahami sabdaMu, sebagaimana Maria yang setia mendampingi Engkau. Menjadi ahli warisMu dengan siap sedia menghadapi pelbagai tantangan dalam memberitakan kabar sukacita.

Bunda Maria dari Karmel, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio

'Inilah ibumu!'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening