Jumat Pekan Biasa XVI, 28 Juli 2017

Kel 20: 1-17  +  Mzm 19  +  Mat 13: 18-23

 

 

Lectio

Pada waktu itu bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.

 

Meditatio

Pada waktu itu bersabdalah Yesus kepada para muridNya: 'dengarlah arti perumpamaan penabur itu'. Penabur itu dalah Tuhan Allah sendiri, dan yang ditaburkan adalah sabda dan perintah-perintahNya yang menyelamatkan. Allah menaburkan sabdaNya karena Allah menghendaki umatNya selamat. 'Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan'. Kenapa dia tidak mengerti? Kenapa dia tidak bertanya? Tetapi memang pada saat yang sama kuasa kegelapan datang menyerang dan menyerang. Siapa yang salah? Siapa yang lebih menarik? Tidak dipersoalkan di sini, tetapi yang jelas firmanNya itu tidak berbekas dan tidak menempel sedikitpaun dalam benak hati orang tersebut. Mereka mendengarkan sabda, tetapi tidak menaruh perhatian sama sekali terhadapNya.

'Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad'. Firman yang ditaburkan tidak berakar? Yang jelas, kita manusia sepertinya tidak mendalami apa yang disampaikanNya. Dan lebih parah lagi, aneka kesulitan dan tantangan, bukannya memurnikan diri, malah karena aneka kesulitan itulah menjadi kesempatan untuk berbalik dari keselamatan itu sendiri. Mereka melawan kemauan baik Allah yang menyelamatkan. Mereka lari, karena ingin mencari keamanan dan keselamatan diri.  

'Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'. Sabda Tuhan sepertinya tidak menjadi penghiburan yang menyenangkan sepertinya, sehingga dia lebih tertarik pada aneka hal lain yang mendunia itu. Keindahan dunia lebih menarik  hati kepadanya. Kekayaan dan harta benda sepertinya lebih dirasakan memberi jaminan untuk hidup nyaman di dunia. Mereka lupa, bahwa hanya Allah yang mampu memberi keselamatan hidup seluruh manusia. Mereka lupa, kalau hidup ini tidak bergantung hanya pada makanan.

'Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'. Mendengarkan sabda dan perintah-perintahNya membuat sesorang dapat menikmati hidup ini dengan lebih indah, malah dia akan mampu menjadi sesama bagi orang lain. Dia menjadi saluran rahmat dan berkat bagi sesamanya. Sebagaimana ranting tidak akan berbuah kalau lepas dari pokoknya, demikian hidup yang lepas dari Allah akan mati; bukan mati karena kodrat kita manusia, melainkan mengalami kebinasaan dan tidak beroleh keselamatan kekal.

Benih-benih yang ditaburkan dalam diri kita adalah sepuluh perintah Allah sebagaimana tersurat dalam kitab Keluaran (20: 1-7), yang semuanya itu teringkaskan dalam hukum cinta kepada Tuhan dan sesama. Dalam pengalaman hidup rohani, kita harus berani mendengarkan Yesus Kristus sang Empunya kehidupan, yang menjadi manusia, sebagai Anak Manusia sama seperti kita, kecuali dalam dosa, sebab hanya kepadaNyalah Bapa di surga berkenan (Mat 3: 17).

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkaulah sabda kehidupan. Ajarilah kami menjadi pendengar-pendengar sabda yang tidak menipu diri, melainkan melaksanakan segala yang Engkau kehendaki. Amin.

 

 

 

Contemplatio

'Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening