Pesta Maria Magdalena, 22 Juli 2017

Kid 3: 1-4  +  Mzm 63  +  Yoh 20: 1.11-18

 

 

Lectio

Pada waktu itu, pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

 

 

Meditatio

Pada waktu itu, hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Mengapa Maria pergi ke makam? Apakah untuk mengungkapkan kesedihannya dengan pergi ke makam pagi hari? Atau malah perhatian dan kasih Yesus yang menyapa dan menyelamatkan dia yang membuat dia berani mencari dan mencariNya? Kenapa harus pagi hari? Bukankah kaum perempuan kurang diperhitungkan dalam budaya patriakhal? Atau Maria sendiri sadar akan status yang pernah disandangnya? Namun yang kini mengejutkan dia adalah, bahwa pintu penutup kubur telah terguling. Apa daya? Maria hanya berdiri dekat kubur itu dan menangis.

Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kebutuhan inderawi yang menguasai gaya hidup banyak orang tidak mempengaruhi pencarian dirinya akan sang Guru.

'Ibu, mengapa engkau menangis?'.  Pertanyaan yang sama, baik yang diajukan para malaikat ataupun Yesus yang menampakkan diri tidak mampu membuka telinga Maria, demikian juga mata yang melihat para malaikat dan Orang yang dikasihinya tidak memberi kepuasan pada pencarian diri akan sang Guru. Mengapa semuanya bisa terjadi seperti itu? Telah butakah mata Maria Magdalena dan juga telah tulikah telinganya? Pikirannya seperti hanya berpusat pada persoalan pribadi hidupnya, bahwa 'Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan'; Orang yang dipuja dan dipujinya tidak ada, dan hilang. Realitas hidup ternyata amat berbeda dengan yang diharapkan, dan kiranya memang di luar kemungkinan yang dapat terjadi. Namun ketika Dia yang dicarinya itu menampakkan diri tidaklah sama dengan yang dihadapinya sekarang: Dia yang adalah Tuhan malah ditiadakannya; Maria melihat semua orang sama dengan dirinya, kehadiran sang Ilahi diabaikannya. 'Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya'. Tuhan Yesus yang dicari menyapa dirinya malah dilupakan, bahkan diabaikan. Apakah ketidakmampuan Maria Magdakena dalam mengendalikan diri akan meniadakan segala yang indah dan baik? Ketidakmampuan seseorang mengendalikan diri membuat orang tidak mengenal yang Ilahi yang ada di depan matanya.  

'Maria!', sapaan Yesus yang mungkin nada berbeda dengan pertanyaan yang dilontarkanNya tadi. Sapaan pribadi sang Guru membuka mata hati Maria sehingga mampu membuat dia berkata-kata: 'Guru'; dan pada akhirnya memberanikan Maria berkata: 'Aku telah melihat Tuhan!'. Seruan Maria adalah kesaksian bahwa Dia yang dicarinya ternyata hidup dan ada di antara kita. Dia tidak hilang tetapi tetap menjadi buah hatinya. 'Kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia' (Kid 3: 4). Kata-kata seperti inilah yang seperti diucapkan Maria, karena memang dia telah menemukan kembali Dia yang dicarinya. Sekali lagi Dia hidup, dan tidak mati.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, buka hati dan budi kami agar dapat menyadari, bahwa Engkau hadir dalam setiap peristiwa yang terkecilpun, supaya kamipun mampu mengatakan 'aku telah melihat Tuhan' seperti Maria Magdalena yang menyadari kehadiranMu lewat sapaanMu yang secara pribadi.

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Aku telah melihat Tuhan!'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening