Pesta Santo Yakobus, 25 Juli 2017

2Kor 4: 7-15  +  Mzm 126  +  Mat 20: 20-28

 

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang".

 

Meditatio

'Kami dapat', sahut Yakobus bersama serentak dengan saudaranya, Yohanes. Mereka siap sedia atas permintaan Yesus: 'dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?. Yesus menantang mereka untuk berani minum cawan yang hendak diberikanNya, karena permintaan mereka sendiri melalui sang ibu dengan berkata: 'berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu'. Penyataan Yesus memang meminta setiap orang untuk berani berjuang dan berjuang dalam mengejar keselamatan. Keselamatan memang diberikan kepada setiap orang tanpa terkecuali, tetapi tidak dilemparkaNya begitu saja. Setiap orang diminta untuk berani minum cawan bersamaNya, yang artinya memanggul salib bersama Dia sang Empunya kehidupan.

Apakah jawaban kedua murid ini boleh kita lihat sebagai kesombongan diri? Sebab bukankah kalau hanya mengandalkan diri semata kita pun tidak akan mampu melakukan segala kehendak Tuhan? Bukankah hanya dengan berbekal iman kita dapat melakukan segala sesuatu dengan lebih indah dan berdaya guna? Bukankah Paulus juga mengingatkan kita bahwa karya pelayanan yang kita miliki ini bagaikan tersimpan dalam bejana tanah liat (2Kor 4: 7), karena memang 'kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami?'.

Benar, karena itu Yesus mengingatkan, 'cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya'. Yesus bukannya memberi kelonggaran, malah semakin meminta para murid agar melakukan segala sesuatu tanpa pamrih. Mengikuti Yesus harus dibarengi iman, dan bukan rasa pamrih. Minimal seperti yang pernah dikatakan oleh seorang yang sakit kusta dengan berkata: kalau Engkau mau, aku akan sembuh (Mrk 1: 40). Aku mau mengikuti Engkau, karena memang aku mau, sebab perkataanMU adalah hidup kekal (Yoh 6: 68).

Yesus memanggil mereka semua, lalu berkata: 'kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu'. Yesus meminta para murid, kita semua agar tidak menggunakan budaya kekerasan yang otoriter. Itulah yang memang terjadi dalam dunia nyata. 'Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu', tegas Yesus. Yesus meminta agar setiap kita berani melayani dan melayani tanpa pamrih dan tanpa memandang muka. Bukankah kita ada unutk orang lain? Bukankah orang lain adalah bagian hidupku? Bukankah malah yang lemah harus mendapatkan perhatian yang lebih banyak? (lih 1Kor 12: 23). 'Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'. Inilah ukuran pelayanan yang harus kita berikan kepada orang lain. Tidak kasih yang lebih besar daripada dia yang menyerahan nyawa bagi sahabat-sahabatNya. Maka benarlah memang yang ditegaskan Yesus, bahwa hendaknya kita mengasihi sesama sebagaimana Allah telah mengasihi kita, dan bukan sebatas mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau sunguh baik kepada kami. Engkau mengundang kami untuk melakukan segala yang baik dan benar. Bantulah kami, ya Yesus, agar kami tetap rendah hati dalam melakukan segala sesuatu, dan malah semakin berani melayani sesama sebagaimana Engkau sendiri telah menjadi tebusan bagi banyak orang.

Santo Yakubus, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening