Selasa Pekan Biasa XIII, 4 Juli 2017

Kej 19: 15-29  +  Mzm 26   +  Mat 8: 23-27

 

 Lectio

Pada waktu itu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

 

Meditatio

Pada waktu itu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sang Gembala memang selalu mendahului ke mana Dia akan pergi, karena memang Dialah yang tahu akan jalan kehidupan ini. Bukankah Dia sendiri adalah sang Kehidupan ini? Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Singkat kali Matius menceritakan pengalaman ini. Seberapa jauh amukan angin ribut ini baru dialami oleh mereka? Sepertinya diluar prakiraan akan terjadinya semua prahara ini. Yesus pun yang tahu segala juga tidak memberitahukan segala yang akan terjadi. Mengikuti Yesus memang tidak membuat kita bebas dari hukum alam, malahan sepertinya diajak menikmati apa yang terjadi dalam perjalanan hidup ini. Yesus Tuhan membiarkan kita untuk berani menghadapi kenyataan hidup. Angin ribut yang menerpa mereka tidak membuat Yesus terbangun dari tidurNya. Mengapa?

'Tuhan, tolonglah, kita binasa', teriak murid-murid-Nya yang datang membangunkan Dia. Mungkinkah mereka binasa bersama sang Guru? Mungkinkah ada bersama Tuhan para murid binasa? Kalau tidak mungkin, mengapa mereka membangunkan Yesus? Itulah pikiran kita yang seringkali berbeda dengan kemauan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Ia berkata kepada mereka: 'mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?'. Ketakutan dan kekuatiran yang sepertinya membuat mereka berteriak dan berteriak, dan bukannya percaya bahwa Tuhan Yesus mampu melakukan segala sesuatu. Inilah yang memang sering terjadi di antara kita. Kita mudah kuatir dan gelisah, padahal ada Tuhan di samping kita, Allah Immanuel. Tuhan Yesus sendiri memang secara sengaja membuat kita berdiri di ambang batas, di mana sepertinya kita harus berdiri hanya pada satu kaki ini. Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Yesus tidak berhenti pada kelemahan umatNya. Dia tidak memperhitungkan keterbatasan, bahkan kekekurang percayaan orang-orang yang dikasihiNya. Barangsiapa berseru kepadaNya akan selalu didengarkan dan dikabulkan permohonannya.

'Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?', sahut orang-orang yang heran kepadaNya. Sebab segala ciptaan taat kepadaNya. Angin dan danau yang tidak tumbuh dan berkembang secara dinamis taat dan berunduk kepada perintahNya. Orang ini punya kuasa sungguh atas alam semesta, sebagaimana yang dilakukan Tuhan sendiri; 'TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah' (Kej 19: 24-25). Semua hanya dilakukan oleh Tuhan, sang Pencipta, dan itulah yang dilakukan Yesus.

 

 Oratio

Ya Yesus Kristus, sungguh, kami inipun sering khawatir dan ketakutan ketika menghadapi persoalan, kami kurang percaya dalam mengandalkan Engkau. Lebih banyak kami mengandalkan kemampuan diri, kami menjadi sombong, ampunilah dan teguhkanlah iman kami kepadaMu. Sebab Engkaulah Imanuel, yang menyertai kami. Amin

 

 Contemplatio

'Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012