Selasa Pekan Biasa XVII, 1 Agustus 2017

Kel 33: 7-11 + Mzm 103 + Mat 13: 36-43

 

Meditatio

Suatu hari Yesus meninggalkan orang banyak yang mendengarkan pengajaraNya itu, lalu pulang. Murid-muridNya datang dan berkata kepadaNya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."   Ia menjawab, kataNya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam KerajaanNya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!".

 

 

Meditatio

Setelah Yesus selesai dengan pengajaranNya, Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Pulang ke rumah siapa? Apakah  mereka semua sedang berada di Nazaret? Atau rumah murid lainnya? Murid-muridNya datang dan berkata kepadaNya: 'jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu'.  Apakah memang para murid belum mengerti apa yang Yesus umpamakan itu? Bukankah tumbuhan lalang ini sudah biasa bagi pendengar di Palestina? Mengapa mereka harus bertanya, bukankah mereka sempat mempersoalkan juga mengapa Yesus mengajar kepada banyak orang dengan perumpamaan? Mereka bertanya, tetapi ternyata mereka sendiri  juga tidak mengerti apa yang mereka dengarkan. Sepertinya pengetahuan para murid ini tidak seberapa jauh dengan mereka orang-orang yang mendengarkanNya. Mengapa? Karena mereka juga tidak mengerti seperti orang lainnya.  

Ia menjawab, kataNya: 'orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam KerajaanNya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi'. Dengan perumpamaan gandum dan lalang ini, sepertinya Yesus mau menekankan beberapa hal penting: pertama, bahwa di dunia ini selalu ada kuasa jahat yang menanti untuk menghancurkan yang baik. Yesus membiarkan umatNya menghadapi aneka gangguan dari mereka yang jahat. Bukankah hal yang sama pernah dialami oleh Ayub yang diganggu dan diganggu oleh kuasa penggoda? Kedua, dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Bukankah gandum dan lalang kalau sudah tumbuh akarnya saling mengikat, sehingga sulit untuk mencabutnya? Maka dibiarkanlah tumbuh bersamaan sampai waktunya dituai, dan barulah dipisahkan antara biji gandum dan biji lalang. Semuanya itu memberi permenungan, pertama agar setiap orang tidak cepat menghakimi sesamanya, kedua segala sesuatu ada waktunya, dan ketiga yang berhak menghakimi adalah Allah, dan bukan kita, yakni pada hari penghakiman, di mana akan ada pemisahan antara gandum dan lalang.

'Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka'. Mereka adalah orang-orang, yang kodratinya adalah citra Tuhan dan bertahan dalam aneka  tantangan kehidupan. Barangsiapa bertahan sampai akhir akan beroleh selamat (Mat 10) benar-benar mereka hayati dalam keseharian hidup. Kesetiaan mereka sebagai citra Tuhan mendatangkan rahmat dan berkat, bahkan kemuliaan surgawi mereka nikmati.

'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!', tegas Yesus. Yesus mengajak para murid agar benar-benar memahami apa yang dikehendakiNya. Semuanya itu bukan demi kemuliaan dan kepuasan Tuhan, melainkan semata-mata hanya demi keselamatan umat manusia sendiri.

Pengalaman Musa yang sadar sungguh bahwa Tuhan itu sabar dan penuh kasih setia menjadi patrun bagi setiap orang untuk berani menikmati kasih Tuhan.

'Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapanMu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milikMu' (Kel 34: 9). Inilah permintaan Musa kepada Tuhan. Dia berani meminta dan meminta kepada Tuhan, karena Musa yakin akan belaskasih Tuhan yang mahabesar. Sekecil apapun kebajikan yang dapat kita kerjakan akan menjadi perhatian Tuhan.

 

Oratio

Ya Yesus, kami ini adalah manusia lemah, kadang mudah untuk menghakimi. Ajarilah kami agar dapat memahami yang menjadi kehendakMu, dan teguh dalam iman ketika menghadapi aneka tantangan, sehingga kelak di hari penghakimanMu kami dapat menikmati kemuliaan bersamaMu.

Santo Alfonsus Maria de Liguori, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening