Senin Pekan Biasa XV, 17 Juli 2017

Kel 1: 8-14  +  Mzm 124  +  Mat 10:34 – 11:1

 

 

Lectio

Pada waktu Yesus bersabda kepada para muridNya: 'jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'. Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

 

 

Meditatio

Pada waktu Yesus bersabda kepada para muridNya: 'jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'. Yesus membawa pedang? Bukankah kelahiranNya mewartakan kabar sukacita, dan Dia menjadi pembawa damai dan sukacita. Yesus secara sengaja menegaskan bahwa Dia datang membawa pedang karena, 'Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya'. Yesus menjadi penyebab terjadinya perbantahan satu sama lain, malahan terjadi dalam keluarga. Maria sendiri pun pernah diingatkan bahwa Anak yang dilahirkannya memang akan membawa perbantahan bagi banyak orang, supaya terbukalah hati banyak orang (Luk 1). Megapa? Karena sepertinya, orang harus mengambil pilihan: mengikuti Dia atau tidak, menikmati keselamatan atau kebinasaan. Menentukan pilihan inilah yang tak jarang orang harus berani berbantah satu dengan lainnya dengan kata-kata kebenaran tentunya.

Terlebih-lebih lagi Yedsus malah menantang orang muridNya dengan berkata: 'barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku', kedua, 'barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku'. Yesus harus diutamakan dalam kehidupan sehari-hari. Hormatilah ayah dan ibumu sebagaimana dikatakan kitab Taurat mendapatkan penyempurnaan. Bukankah memang cinta terhadap Tuhan adalah hukum pertama, dan barulah cinta terhadap sesama, termasuk kedua orangtua dan anak-anak kita itu hukum kedua? Namun kiranya kalau sejauh kita mengerti bahwa Yesus menggunakan bahasa kiasan dalam perikop ini tentunya tetap mempunyai arti yang satu dan sama, bahwasannya Tuhan Yesus hendaknya menjadi perhatian pertama dan utama dalam keseharian hidup kita. Ketiga,'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku'. Sekali lagi Yesus harus diutamakan dalam keseharian hidup kita orang-orang percaya, dan bahkan kita harus berani memikul salib kehidupan kita, sebagaimana yang dilakukanNya sendiri. Salib adalah segala yang menantang tingkah laku kita, dan bukannya keteledoran yang harus kita pertanggungjawabkan. Salib mau tidak mau harus kita terima, karena memang keinginan kita tak selalu selaras dengan kenyataan hidup. Sebaliknya kenyataan hiduplah yang memang membuat kita hidup apa adanya, dan bukan sebatas angan-angan yang melayang di atas sana.

'Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'. Yesus berkata demikian, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan, dan hanya dalam Dia ada kehidupan. Hidup adalah milik sang Kehidupan. Kita tidak kuasa menyimpan dan menyembunyikannya. Bukankah 'rambut kepalamu pun terhitung semuanya' (Mat 10: 30), dan kita 'tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun' (Mat 5: 36). Sebaliknya memang, barang siapa berani berkurban demi Kristus, atau pun harus menderita dan mati karena nama sang Empunya kehidupan itu,  dia akan memperoleh kehidupan sejati.

'Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku'. Semuanya itu bisa terjadi sejauh kita para murid berani mengutamakan Dia dalam hidup ini. Bukankah memang para murid diminta menyatakan kehadiranNya, karena Dia ingin karya penyelamatanNya terus berlangsung sampai akhir jaman? Roh Penghibur sendiri yang memang menyertai mereka sampai akhir jaman. Semuanya itu juga terjadi karena memang itulah kehendak sang Empunya kehidupan. 'Aku di dalam mereka dan mereka tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku' (Yoh 17: 23.26). Kehadiran orang-orang yang percaya kepada Kristus memang selalu membawa berkat bagi sesamanya. Bukankah memang Kristus adalah berkat bagi umatNya?

'Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'. Penekanan Yesus di sini lebih pada apa yang akan diperoleh seseorang sesuai dengan apa yang dilakukannya. Barangsiapa menabur sedikit akan menuai sedikit, dan barangsiapa menabur banyak, dia akan menuai banyak pula.

Beriman memang seringkali dimengerti banyak orang bahwa kita mendapatkan sesuatu, bahkan mendapatkan keselamatan. Itu benar! Namun Injil hari ini sepertinya mengingatkan kita semua, bahwasannya beriman itu juga harus berani memberi dan memberi. Memberi kepada siapa? Memberi kepada Yesus Tuhan. Memberi diri, memberi hidup, berani berkurban demi Yesus Kristus. Sebaliknya kalau kita pelit dan menyembunyikan diri dari Tuhan, maka kita akan kehilangan sesuatu yang kita bangga-banggakan, yakni hidup kita. Karena itu benarlah kalau Yesus tadi berkata: 'barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'.

Namun kalau kita benar-benar berani memberi dan memberi kepadaNya, sedikit yang kita berikan akan benar-benar mendatangkan rahmat dan berkat kepada kita. Karena itu, bukan saja menyambut nabi dan menerima upah nabi, atau menyambut orang benar menerima upah orang benar, 'memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya'.

Injil hari ini benar-benar menantang dan menantanga byak orang unutk bereani berkurban, yang memang amat sulit dilakukan dengankewajaran akal budi. Semakin diperberat lagibila siruasi dan keadaan tidak mendukung. Kiranya penalaman umat Israel (Kel 1) mengingatkan kita semua, bahwa relaitas hiudp sering dikendalikan oleh banyak orang yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apakah kita boleh berkatan bahwa semuanya itu adalah sesuai dengan kehendak Tuhan?

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk berani memberi dalam hidup ini kepada mereka yang memerlukannya, karena hanya dengan memberi menyatakan iman kami kepadaMu yang berani untuk memberi dan juga berkorban demi namaMu. Sebab janjiMu adalah janji keselamatan bagi kami. Amin

 

Contemplatio

'Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 12 Agustus 2012