Senin Pekan Biasa XVII, 31 Juli 2017

Kel 32: 15-24  +  Mzm 106  +  Mat 13: 31-35

 

 

Lectio

Pada waktu Yesus membentangkan suatu perumpamaan kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

 

Meditatio

'Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya'. Sebuah perumpamaan yang indah yang diberikan Yesus kepada para muridNya, kepada kita semua. Kecil itu indah. Perumpamaan yang sama dengan ini adalah 'hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Bukan saja kecil itu harus dimengerti sebatas ukuran dan bentuknya yang tidak besar, tetapi juga kecil itu sedikit dan kurang mendapat perhatian banyak orang. Apalah artinya biji sesawi yang kecil itu? Apalah artinya sepotong ragi yang kecil itu? Selama kita tidak menaruh perhatian, ataupun kita tidak memfaatkan dan memaknainya, maka semuanya itu tidak berguna dan tak bisa dimengerti. Demikian sebenarnya, kalau kita menikmati kehadiran Kristus Tuhan, kalau kita menghidupi sabdaNya, kita akan menjadi saluran berkat bagi sesama. Kita akan mampu bermakna bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, dan kita menjadi berkat itu sendiri bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Banyak orang akan senang bergaul dengan pribadi kita, karena selalu kehadiran kita yang membawa sukacita. Kita bahkan mampu membuat orang lain hidup baru, karena memang kita berani berbagi dengan orang lain. Kehadiran seorang yang percaya kepada Kristus  menjadikan komunitas hidup dan menggairahkan, dana penuh semarak.

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka. Mengapa? Walau tak dapat disangkal para murid sempat pernah memprotesnya: 'mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?'. Para murid merasakan bahwa adanya pembedaan satu dengan lainnya.  'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya', tegas Yesus menanggapi protes mereka. Secara khusus memang Yesus membedakan antara mereka yang terpilih dan tidak, antara para murid dengan mereka orang-orang yang tidak mau tahu akan sabdaNya.

Yesus memang membedakan mereka satu dengan lainnya, tetapi semuanya tetap pada kehendak Allah yang menginginkan semua orang beroleh selamat. Sabda harus tetap disampakaikan kepada setiap orang, karena memang sabda Allah adalah kehendakNya yang kudus. 'Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan'. Inilah maksud Yesus menyampaikan semuanya itu dalam perumpamaan; dan kiranya perumpamaan malahan menjadi bentuk bahasa yang mempermudah setiap orang unutk memamahmi da mengertinya. Penggunaan perumpamaan, bukan hanya sekedar untuk membedakan para pendengarNya, melainkan juga mempermudah setiap orang dalam memahami kehendakNya.

Ketidaksetiaan Israel akan kasih dan perlindungan Tuhan, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama mengungkapkannya dengan membuat patung tuangan (Kel 32),  semuanya itu bertentangan dengan maksud baik Tuhan Allah sendiri. Budaya instan telah jauh merasuki bangsa Israel orang-orang yang dikasihiNya, yang pada hakekatnya berlawanan dengan kodrat Kerajaan Surga itu sendiri yang hadir dalam proses kehidupan manusia.

 

Oratio

Yesus Kristus, jadikanlah kami orang-orang yang setia dalam menikmati kehadiran KerajaanMu dalam kehidupan sehari-hari. Buatlah kami menjadi orang-orang yang setia, ya Tuhan, sebagaimana diteladankan santo Ignasius Loyola bagi kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening