Jumat dalam Pekan Biasa XVIII, 4 Agustus 2017

Im 23:  4-37 +  Mzm 81  +  Mat 13: 54-58

 

 

Lectio

Suatu hari setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: 'dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?'. Mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: 'seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya'. Karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ.

 

Meditatio

Suatu hari setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Selesai dengan pengajaranNya kepada orang banyak, Yesus berangkat ke Nazaret. Ada apa Yesus pergi ke Nazaret? Apakah karena rindu terhadap Maria sang ibu? Namun tak dapat disangkal, Yesus sepertinya sudah mendapatkan pengakuan banyak orang, maka Dia dengan leluasa mengajar di rumah-rumah ibadat saat hari Sabat. Apakah kerelaan untuk mewartakan sabda Tuhan begitu kuat di antara mereka, sehingga orang begitu mudah siap sedia mewartakan sabda di bait Allah?

Mendengar pengajaran Yesus takjublah mereka. Mereka takjub, tentunya karena mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan biasanya.  'Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?'. Mereka bangga terhadap Yesus karena pengajaranNya yang penuh wibawa dan kuasa, tetapi sekaligus mereka bertanya-tnya darimana semuanya itu didapatkanNya. 'Bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?'.  Yesuspun sepertinya bukanlah keturunan imam, yakni kaum Lewi, atau pun minimal dari antara saudaraNya pun ada yang mampu mengajar selama ini. Penelurusan berdasar asal usul sepertinya tidak akan menemukan inti persoalan, dan menutup segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam diri seseorang. Ketidakpercayaan terhadap diri seseorang akan menciptakan pelbagai sikap negatif,  dan itulah yang terjadi dari antara orang-orang Nazaret. Mereka kecewa dan menolak Dia. Adakah sesuatu yang indah dari Nazaret? Apakah peneriman akan Tuhan sebatas kepuasan diri? Dia memberi sesuatu atau tidak terhadap saya?  Apakah iman pamrih masih bertumbuh dalam kehidupan sekarang ini? Tuhan itu baik hanya karena kita mendapatkan rejeki dan mukjizatNya? Apakah kita bisa berkata Tuhan baik, karena kita menikmati pemberianNya?

Maka Yesus berkata kepada mereka: 'seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya'. Itu benar. Apakah selama itu Yesus diterima banyak orang di luar Nazaret? Penolakan yang ditimbulkan oleh kekecewaan menjadi penghambat bagi seseorang dalam menerima rahmat Tuhan. Demikian juga dengan orang-orang Nazaret,  dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ. Kepercayaan adalah ladang yang subur akan tumbuhnya kasih dan rahmat Allah.

 

Oratio

Ya Yesus, kami seringkali mudah menghakimi seseorang melalui penampakan lahiriahnya saja. Ajarilah kami menjadi rendah hati dalam pergaulan dengan sesame, dan siap menerima mereka dengan segala keberadaan mereka apa adanya, agar kami sebagai satu saudara, dapat saling melayani dan berbagi sesuai dengan kemampuan dan talenta kami masing-masing.

Santo Yohanes Maria Vianny, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?'

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening