Jumat Pekan Biasa XIX, 18 Agustus 2017

Yos 24: 1-13  +  Mzm 136 +  Mat 19: 3-12

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

 

 

Meditatio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Tujuan mereka datang kepada Yesus sudah pasti, yakni hendak mencobaiNya, dan bukannya mau belajar atau bertanya-tanya. Mereka bertanya: 'apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?'. Mengapa mereka tidak bertanya apakah boleh seorang isteri menceraikan suaminya? Pasti tak terpikirkan oleh mereka, karena memang tidak akan terjadi pada waktu itu. Jawab Yesus: 'tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?'. Yesus kembali mengingatkan mereka akan apa yang telah tersurat memang dalam kitab suci. Tuhan menciptakan manusia berbeda satu dengan lainnya. 'Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu'. Inilah perkawinan dan pembentukan keluarga baru. Perkawinan adalah sebuah persatuan antara laki-laki dan perempuan; mereka membentuk sebuah keluarga baru, yang lama ditinggalkan. Semuanya telah tersurat dalam kitab Perjanjian Lama, yakni kitab Kejadian. 'Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Semuanya itu adalah kehendak Allah, dan Allah sendiri yang mempersatukan mereka, sebab mereka  sendiri datang dan berjanji di hadapan sang Empunya kehidupan, dan Tuhan meneguhkan mereka. Menceraikan perkawinan berarti melanggar kehendak dan kemauan Tuhan Allah sendiri.

'Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?', kejar mereka. Perceraian sepertinya telah terjadi selama itu; dan bahkan nabi besar Musa mengijinkan mereka membuat surat cerai. 'Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu', tegas Yesus. Ketegaran hati umat Israellah yang memaksa Musa, dan membuatnya tidak berdaya untuk mengadakan surat cerai. 'Tetapi sejak semula tidaklah demikian'. Sekali yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Manusia diminta untuk tidak melawan dan menentang kehendak Allah. 'Tetapi Aku berkata kepadamu: barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah'. Zinah adalah ketidak setiaan. Seorang laki-laki diijinkan menceraikan isterinya, kalau sang isteri tidak setia dan berzinah. Bagaimana kalau si suaminya yang berzinah, apakah isteri berhak menceraikannya? Dunia patriakal amat sombong dan mencari menangnya sendiri! Seorang laki-laki yang menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, dia juga berbuat zinah, karena memang masih terikat dengan isteri yang ditinggalkannya.

Murid-murid itu berkata kepada-Nya: 'jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin'. Mengapa para murid bertanya seperti itu? Tidak beranikah mereka menghadapi kenyataan bahwa memang dalam hidup perkawinan dan keluarga akan selalu muncul persoalan. Dalam bentuk hidup apapun kesetiaan setiap orang diminta, dalam aneka realistis kehidupan. Apakah ungkapan para murid menunjukkan egoisme diri yang mementingkan diri dan mengabaikan kepentingan orang lain? 'Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja', tegas Yesus yang memang menghendaki kesetiaan bagi setiap orang yang menjalani panggilan hidupnya. Perkawinan adalah sebuah pilihan hidup yang memang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang yang mengambilnya.

'Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya', tambah Yesus. Apakah yang dimaksudkan di sini adalah resiko genetik yang bisa terjadi pada setiap orang? Semuanya memang tidak kita kehendaki, tetapi bisa saja terjadi faktor genetik yang dialami dan dirasakan pada diri setiap orang. Faktor-faktor inilah yang menghalangi mereka masuk dalam jenjang perkawinan.

'Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain'.  Tentunya tindak medis telah dilakukan terhadap orang-orang yang bersangkutan; tetapi ada yang dimaksudkan untuk kebaikan hayati hidup seseorang atau malah sebaliknya tindak kejahatan yang memang dimaksudkan. Mereka ini adalah menerima pasif dari tindak medis tadi, dan mereka dibuat tak berdaya dalam gerak perkawinan, bahkan terhalang dalam soal perkawinan. 'Ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga'. Mereka ini mempunyai kemampuan untuk masuk dalam hidup perkawinan , tetapi sengaja tidak memilihnya, karena hendak menjabarkan kehendak Allah sendiri ke dalam Kerajaan Surga yang tidak kawin dan dikawinkan dalam KerajaanNya. Realitas surgawi itulah yang dijabarkan dan diungkapkan hidup sekarang ini. Mereka itu sering kita sebut para religious selibater.

'Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti'.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau menciptakan manusia yang laki-laki dan perempuan. Engkau menciptakan semuanya berbeda satu sama lain, kiranya perbedaan-perbedaan tersebut semakin mempersatukan kami. Saling setia dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing, baik sebagai pasangan dalam keluarga maupun dalam tugas pelayanan kami. Terima kasih ya Yesus atas anugerahMu ini. Amin

 

Contemplatio

'Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening