Jumat Pekan Biasa XXI, 1 September 2017

1Tes 4: 1-8 + Mzm 97 + Mat 25: 1-13

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus bersabda kepada orang-orang yang mendengarkanNya: 'hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'.

 

 

Meditatio

'Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka', kata Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Surga. Mereka yang siap menanggapi kehadiran KerajaanNya ada yang seperti gadis bijak, ada yang bodoh. Gadis yang bijak mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi, minimal mereka membawa minyak tambahan dalam buli-buli. Mereka itu sedia payung sebelum hujan.

'Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka'. Saatnya tiba. Mereka yang tidak bisa memastikan kapan datangnya pengantin pada akhirnya harus bersiap-sedia menyambut kedatangan sang pengantin dengan segala keberadaan mereka.

'Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ'. Komentar gadis-gadis bijak terhadap teman mereka yang tidak membawa minyak dalam buli-buli.  Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Itulah permintaan mereka, dan sepertinya perlu mendapatkan belaskasih, tetapi tidak juga mendapatkan, karena tidak antisipatifnya mereka terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Memang hanya orang yang berjaga-jaga yang dapat menikmati hidup ini dengan nyaman, sebab segala kenyataan dunia ini sulit kita pastikan, bahkan kita paksa.

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu', kata tuan rumah yang menjawab teriakan gadis-gadis yang harus membeli minyak terlebih dahulu: 'tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!'. Sikap siap sedia memang perlu sekali dalam setiap kenyataan hidup. Siap sedia sekaligus menunjukkan keseriusan seseorang dalam menanggapi kenyataan hidup, terlebih-lebih tentunya dalam menjawabi panggilan dan sapaan Tuhan.

'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya', tegas Yesus. Yesus memang mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga dan bersiap sedia akan datangNya Kerajaan Surga, tetapi tak dapat disangkal kitapun hendak siap sedia selalu dalam aneka kehidupan, sebab bukankah kehidupan ini adalah anugerah Tuhan.

Orang yang berjaga-jaga amat tampak dalam sikap dan tindakannya; tampak juga dalam menjaga kekudusan jiwa raganya (bdk 1Tes 4: 1-8). Bukankah memang hanya jiwa dan budi yang kudus saja mendapatkan lawatan dan belaskasihNya? Berjaga-jaga memang adalah bahasa lain dari kekudusan hati dan budi itu sendiri.

 

 

Oratio

Yesus Kristus, ajarilah kami menjadi orang-orang yang selalu siap dan berjaga-jaga, sebab kehadiranMu tampak nyata dalam kehidupan kami sehari-hari, dalam peristiwa kehidupan nyata.

Yesus bantulah kami untuk menemukan Engkau dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.

 

 

Contemplatio

'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening