Pesta Yesus menampakkan KemuliaanNya, 5 Agustus 2017

Dan 7: 9-14 +  2Pet 1: 16-19  +  Mat 17: 1-9

 

 

Lectio

Pada suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.  Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."  Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.  Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

 

Meditatio

Pada suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung apa yang dimaksudkan oleh Matius dalam cerita ini, Horeb atau Tabor, atau gunung lain? Kenapa hanya Petrus, Yakobus dan Yohanes yang diajak oleh Yesus? Ke manakah yang lain? Apa yang hendak dilakukan di sana? Yesus tidak memberitahu apa yang hendak dilakukan di atas gunung. Yesus hanya mengajak mereka. Di situ mereka sendiri saja. Mereka hanya berempat di gunung itu.

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Bentuk Yesus tetap sama, yang berubah adalah adanya cahaya yang bersinar dari wajahNya yang kudus itu; demikian juga dengan pakaian yang dikenankanNya. Semuanya menunjukkan kehadiran ilahi. Kehadiran Allah ditampakkan dalam cahaya yang bersinar, dan bukannya kegelapan. Kita dapat membayangkan bagaimana konkritnya keindahan di atas gunung pada waktu itu. Kehadiran sang ilahi itu semakin tampak nyata dengan hadirnya Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.

'Tuhan', komentar Petrus yang menikmati keindahan ilahi yang dirasakannya. 'Betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'. Ungkapan kegembiraan disampaikannya. Petrus menginginkan apa yang dinikmati sekarang ini, kiranya terus berlangsung. Dengan adanya kemah berarti semuanya akan terus berlangsung. Kemah membuat orang betahan dalam siang dan malam, panas dan dingin. Petrus hanya ingin mendirikan tiga kemah, karena mereka bertiga adalah tokoh-tokoh hebat yang harus dihormati; sebaliknya mereka merelakan diri untuk tinggal dalam kelemahan dan penderitaan. Mereka tetap berada di alama terbuka, yang kena panas dan dingin. 

Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka. Kehadiran awam juga menyatakan kehadiran sang ilahi. Dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: 'inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'. Siapakah yang berkata-kata itu? Kemungkinan besar dan itu pasti, bahwa yang berkata-kata adalah Bapa di surga. Mengapa? Karena hanya yang mampu berkata AnakKu tentunya Bapa dari sang Anak. Bukankah Yesus sendiri selalu berkata bahwa Dia datang hanya untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya? Hanya kepadaNya Bapa berkenan, karena memang Anak Manusia adalah utusanNya sendiri. Dialah Sabda Allah sendiri yang menjadi Manusia. Benar juga nubuat yang pernah disampaikan dalam kitab Daniel, bahwasannya 'kepada Dialah yang seriapa  Anak Manusia itu dirserhaka jekusaan dan kemuliaan dan kekuasanaan sebagai Raja, dan kepada Diala segala ahasa dan bansa menganbdi' (Dan 7: 13-14). Wajarlah juga kalau para pemazmur mengajak kita untuk bertepuk tangan, dan berpekiklah kepada Allah Raja semesta (Mzm 7).

Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Mereka merasa takut, karena mendengarkan suara Tuhan Allah Bapa sendiri. Tuhan ada di depan mata mereka sendiri. Mereka takut, karena mereka sadar akan keterbatasan dan kelemahan diri.   Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: 'berdirilah, jangan takut!'.  Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Penyataan Yesus:  seorang diri sebenarnya hendak menegaskan bahwa Anak Manusia yang dimaksudkan suara dalam awam tadi adalah diriNya; bukan Elia  ataupun Musa. Dan tidaklah cukup sekarang ini dengan berlutut lalu menyembahNya, tetapi siap mewartakan apa yang disampaikanNya dari dalam awam tadi, bahwa Dia memang Anak yang dikasihiNya.  

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: 'jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati'. Mengapa Yesus tidak mau diwartakan kepada banyak orang? Bukankah ketidakpahaman mereka akan mudah diselesaikan karena keberadaan sang Aktor iti sendiri di sini dan sekarang? Yesus meminta diwartakan kelak sesudah kebangkitanNya. Mengapa? Selain karena karena akhir tugas perutusannya adalah kematian dan kebangkitanNya, juga dimaksudkan agar setiap orang berani mengakui dengan hati dan budinya setelah pergaulan mereka dengan Yesus yang selalu menyapa dan menyapa selama hidupNya.

'Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan' (2Pet 1: 16-18). Inilah kesaksian Petrus yang mengalami sungguh keindahan dalam kemuliaanNya, dan bahkan menghendaki berlama-lamaan bersamaNya.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami kami ingin sekali menikmati hal berlama-lama dalam hal yang indah dan menyenangkan. Kami seringkali lupa, kalau kami harus berani berusaha dan berusaha untuk mendapatkannya. Ajarilah kami untuk selalu setia dalam berusaha menikmati kehadiranMu dengan mendengarkan Engkau sendiri. Amin.

 

Contemplatio

'Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati'.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening