Rabu Pekan Biasa XIX, 16 Agustus 2017

Ul 34: 1-12  +  Mzm 66 +  Mat 18: 15-20

 

 

Lectio

Pada waktu itu bersabdalah Yesus: 'apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka'.

 

Meditatio

'Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata'. Permintaan Yesus ini semata-mata hanya berdasarkan kasih persaudaraan. Bukankah kita ini sama-sama ciptaan Tuhan yang tercipta sesuai dengan citraNya? Bukankah diminta untuk menjadi penjaga sesama kita? (bdk Kej 4) Bukankah kita juga sama-sama satu saudara dalam mengamini sabda dan kehendakNya?  'Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali'. Sebagaimana Allah selalu menyelamatkan umatNya, demikianlah juga kita. Bukankah Yesus sendiri datang hanya untuk menebus dan menyelamatkan kita. Kita diajak untuk berani bersikap dan bertindak seperti Allah yang menyelamatkan.

'Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan'. Keberanian kita mengajak orang lain dimaksudkan bahwa kita tidak mencari-cari kesalahan sesama. Sebaliknya, malah kita diajak untuk berani berbenah diri agar terjadi yang indah dalam hidup bersama. 'Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat'. Bukankah memang kita sebagai satu tubuh yang berbeda peran satu dengan yang lain? Bukankah kalau anggota badan satu sakit, seluruh tubuh merasakan sakitnya juga? Kiranya kesadaran sebagai tubuh di mana Kristus sendiri sebagai Kepala akan membuat seseorang berani bertobat dan kembali dalam pangkuan kasihNya. 'Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai'. Orang yang tidak mengenal Allah memang tidak mengenal keselamatan. Apakah menyamakan mereka dengan orang yang tidak mengenal Allah berarti mereka itu kita kategorikan sebagai orang-orang yang tidak mau diselamatkan? Lalu bagaimana kita harus membandingkannya dengan kaum pemungut cukai? Apakah kita menyamakan dengan mereka, karena kedegilan hati dan ketidak mau tahuan para pemungut cukai terhadap orang lain?

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'. Penegasan Yesus ini sepertinya hendak mengingatkan kita, agar kita tidak mudah mengingat atau menegur orang lain saja, tetapi juga harus berani memahami dan memaafkan sesama kita. Bukankah hanya hak Tuhan Allah untuk menghukum sesama kita? Keberanian kita untuk melepaskan kesalahan yang diperbuat sesama kita akan melegakan mereka juga untuk berbakti kepada Allah.

'Dan lagi Aku berkata kepadamu: jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka'. Permintaan Yesus ini menantang kita untuk berani berdoa bersama sebagai saudara. Bukankah kita dapat saling meneguhkan dalam doa? Apalagi kalau Yesus malah berjanji bahwa Dia akan hadir sendiri dalam persekutuan itu. Kiranya dalam kebersamaan, setiap orang dapat mendapatkan pemurnian intensi doa-doanya agar semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Kiranya kehadiran Tuhanlah yang menguatkan kita dalam doa bersama, sebab bukan saja kita diperkenankan untuk berhadapan muka dengan Dia sang Kehidupan sebagaimana dinikmati oleh Musa (Ul 34: 10), malah Dia hadir bersama kita dalam doa kepada Bapa di surga.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami percaya Engkau selalu hadir dalam setiap langkah hidup kami. Ketika terjadi perselisihan diantara kami, mampukan kami untuk dapat saling mengampuni, agar kamipun dibebaskan dari dendam dan sakit hati yang mengikat. Sebab seperti Engkau sendiri yang tidak menghendaki kami menjauh, apalagi jatuh dan binasa. Terima kasih ya Yesus. Amin

 

Contemplatio

'Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka'.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening