Rabu Pekan Biasa XVIII, 9 Agustus 2017

Bil 13: 1-10 +  Mzm 106  +  Mat 15: 21-28

 

 

Lectio

Sekali peristiwa menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.  Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

 

Meditatio

Sekali peristiwa Yesus menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Suatu wilayah yang jauh dari tanah terjanji. Jauh juga perjalanan Yesus dalam mewartakan sabdaNya.  Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: 'kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita'. Sebuah permohonan yang urgen sepertinya. Selain karena percaya kepada Yesus yang diyakini sebagai Tuhan, dia pun juga menderita batin atas sakit yang diderita anaknya perempuan.  Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Mengejutkan, Tuhan kita Yesus tidak menjawab sepatah katapun atas iman yang dimiliki perempuan Kanaan itu, sampai-sampai murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: 'suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak'. Para murid tentunya dibuatNya bingung, karena tidak tahu apa yang dikehendakiNya. Mengapa sang Guru berdiam saja? Mengapa Dia tidak segera menolong? Bukankah dia sudah berteriak-teriak memintaNya? Dengan tegas Yesus pun menjawab mereka: 'Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel'. Bukan saja ke Kanaan yang dilarangNya, ke Samaria pun juga dilarangNya (Mat 10: 5), yang pernah disampaikan Yesus kepada para  muridNya. Mengapa Yesus sampai berkata begitu? Apakah sadar sungguh atas diri nasionalis? Bukankah Allah menghendaki semua orang tanpa terkceuali menikmati keselamatan? Sepertinya Yesus hanya ingin menunjukkan keberpihakkan Allah terhadap orang-orang yang telah dipilihNya.  

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: 'Tuhan, tolonglah aku'. Betapa merunduknya perempuan satu ini terhadap Yesus, dan amat merindukan pertolonganNya. Dia mungkin mendengar apa yang dikatakan Yesus tadi. Dia tidak berhenti, malahan mendekat dan menyembahNya. Sungguh berani orang satu ini. Keberaniannya ini diakibatkan oleh kepercayaan atau kebutuhan? Tetapi Yesus menjawab: 'tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing'. Anak-anak Israel memang harus diutamakan  dan bukannya anjing Samaria. Suatu pernyataan yang amat keras. Perempuan ini amat sangat memahami orang-orang yang dikasihi dan dipilihNya. Bukankah semua orang adalah milikNya? Bukankah Dia sang Pencipta? Kata perempuan itu: 'benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya'. Sebuah jawaban yang penuh pengharapan. Dia hanya meminta remah-remah belaskasih yang dimiliki oleh sang Tuhan. Cukuplah remah-remahnya, aku pun rela.

'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki', sahut Yesus kepada perempuan Kanaan ini. Yesus tahu benar betapa besar iman kepercayaan perempuan satu ini. Apakah Yesus sempat berkata iman sebesar ini belum pernah kujumpai di antara umat Israel? Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Iman kepercayaan yang dimiliki setiap orang hendaknya tumbuh dan berkembang. Bertambahnya waktu adalah bertambahnya iman kepercayaan seseorang dan bukannya kebalikannya. Iman Israel, termasuk Musa dan Harun pun, mendapatkan teguran keras dari Tuhan, karena gerutu dan keluh kesah mereka (Kej Bil 13). Kiranya pengalaman Musa dan Harun mengingatkan kita agar kita semakin tumbuh dan berkembang dengan bertambahnya waktu demi waktu.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami agar semakin beriman kepadaMu, bahwa kasihMu adalah tidak terbatas, Engkau mengasihi setiap orang yang taat melaksanakan sabdaMu. Bantulah kami agar dalam situasi apapun, tetap berpengharapan kepadaMu, sebab Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Amin

 

Contemplatio

'Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening