Rabu Pekan Biasa XX, 23 Agustus 2017

Hak 9: 6-15  +  Mzm 21 +  Mat 20: 1-16

 

 

Lectio

Pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir'.

 

Meditatio

Mereka yang masuk terdahulu menyangka akan mendapat lebih banyak dari yang lain, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Inilah perkiraan. Ada baiknya setiap orang mempunyai wacana, tetapi kiranya tidak bisa kita paksakan kepada orang lain. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Sungut-sungut kejengkelan diri terhadap orang lain memang bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Baiklah kita boleh mempunyai pendapat dan gagasan, tetapi tidak boleh merugikan dan memaksakannya kepada orang lain. Menjadi batu sandunganpun jangan. Kedua, tak dapat disangkal kita orang sering merasa paling berjasa dalam hidup bersama ini. Kita merasa tanpa peran serta kita, segala-galanya tidak akan terjadi. Mampukah kita berbuat sesuatu? Hanya kitakah orang yang paling berjasa dalam hidup bersama ini? Dan seringkali, kita meminta orang lain untuk mengakui dan bahkan berterima kasih kepada kita atas segala peran yang telah kita buat. Sulit bagi banyak orang untuk berkata; aku bekerja segiat-giatnya demi Tuhan Allah Semesta Alam.

'Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?'. Keluhan orang itu telah dibungkam dengan perjanjian yang telah diadakan semenjak semula. 'Ambillah bagianmu dan pergilah'. Pekerja telah melakukan permintaan sang pemilik kebun, dan pemilik kebun pun telah memberikan upah sebagaimana telah dijanjikannya. Perjanjian telah terpenuhi. Sekarang 'aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?'. Kemurahan hati mengatasi segala-galanya. Namun yang hendak dikatakan Yesus dalam perumpamaan ini adalah 'orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir'. Sebab setiap orang, pertama  tidak mampu mengandalkan dirinya untuk dapat melakukan segala keinginan diri; kedua, orang diminta untuk tidak pamrih dalam melakukan segala sesuatu, entah itu dalam relasi dengan sesama, terlebih dalam melakukan kebajikan yang dipersembahkan kepada Tuhan Allah; dan ketiga segala anugerah dan kebaikan Tuhan adalah hak istimewa dari Tuhan sendiri. Setiap orang hanya bisa memohon dan memohon belaskasihNya, tetapi tidak bisa memaksa Dia.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau maha adil dan penuh belaskasih. Ajarilah kami, agar ketika melakukan sesuatu bagi sesama kami tidak pamrih, tetapi kami melakukannya sebagai persembahan bagiMu. Sebab apapun yang kami miliki adalah anugerah dariMu. Amin

 

Contemplatio

'Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?'

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening