Sabtu Pekan Biasa XX, 26 Agustus 2017

Rut 2: 3-11 + Mzm 128 + Mat 23: 1-12

 

 

Lectio

Pada waktu itu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".

 

 

Meditatio

Pada waktu itu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 'ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa'. Kursi Musa melambangkan kedudukan dan peran para ahli Taurat dan kaum Farisi amat penting dalam hidup bersama. Posisi mereka amat sentral dalam realitas sosial. 'Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu', pinta Yesus kepada semua orang yang mendengarkan pengajaranNya. Sekali lagi mereka harus ditaati karena mereka adalah orang-orang yang dituakan.

'Tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka', tegas Yesus. Mengapa? 'Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya'. Mereka itu orang-orang munafik, yang selalu omdo, omong doang. Pertama, 'mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya'. Mereka membebani banyak orang. Mereka membuat orang lain sengsara. Mereka menyuruh orang lain bekerja, tetapi mereka sendiri hanya berdiam diri. Mereka amat malas. Kedua, 'semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang'. Mereka suka bergaya. Mereka selalu tebar pesona di mana-mana, contohnya 'mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat,  suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Guru'. Sekali lagi, inilah kemunafikan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka menggunakan jabatan yang mereka miliki untuk tebar pesona dan bukannya untuk melayani umat Allah yang dipercayakan kepada mereka.

'Kamu', pinta Yesus juga, pertama 'janganlah kamu disebut Guru, karena hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara'. Hanya Yesuslah Guru sejati, karena memang hanya Dialah yang mengajarkan kebenaran. Dia bukan hanya mengajar dan mengajar, tetapi juga melakukan segala yang dikatakanNya. Kita semua saudara, karena kita semua sama-sama orang yang belajar tentang kehidupan ini dari Guru yang satu dan sama.

Kedua, 'janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga'. Hanya satu Bapa kita, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan ini, dan hanya kepadaNyalah kita harus merunduk. Dialah yang dapat memenuhi segala keinginan dan keperluan kita. Bapa kita yang di surgalah yang melindungi dan menjaga, dan hanya kepadaNyalah kita berharap. Ketiga, 'janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias'. Sebab memang Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Hanya melalui Dialah, kita semua akan menuju Bapa dan menikmati keselamatan surgawi. Kehadiran Dia itu bagaikan cahaya menyala dalam kegelapan, dan hanya kepadaNyalah kita mengarahkan hidup ini.

Ketiga permintaan Yesus ini mengajak kita benar-benar untuk mempunyai kerendahan hati yang mendalam. Janganlah kita membanggakan diri, kalau kita mampu melakukan segala sesuatu yang baik dan menyenangkan hati banyak orang. 'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'. Kebesaran dan kehebatan seseorang tampak nyata ketika dia berbagi dengan sesama, ketika dia menjadi sesama bagi orang lain, ketika dia selalu menaruh perhatian terhadap sesamanya. Dia selalu untuk orang lain. 'Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan'. Inilah prinsip hidup yang dikenakan Tuhan Yesus kepada setiap orang. Demikian juga barang siapa terakhir akan menjadi yang terdahulu, dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Setiap orang diajak untuk berani melayani dan melayani seperti Yesus Kristus sendiri, yang selalu melayani setiap orang, dan bahkan menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia.

Kiranya juga menjadi refleksi bagi kita, di mana Naomi menjadi teladan bagi Ruth untuk tetap setia menjadi anggota bangsaNya yang kudus, karena kesetiaannya. Sebaliknya Ruth pun akhirnya juga menjadi saluran berkat dari Tuhan bagi Naomi, karena dia telah melahirkan seorang anak laki-laki dari Boas, sebagaimana diceritakan dalam kitab Rut 2. Barangsiapa menabur dengan bercucuran air mata, kelak akan bersorak-sorai membawa berkas panenannya (Mzm 126).

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami menjadi orang-orang yang murah hati, sebagaimana Engkau sendiri selalu siap menjadi sesama bagi orang lain. Kiranya kami juga tidak mudah berbangga, bila telah mampu melakukan segala yang baik dan berguna bagi sesama kami. Amin.

 

Contemplatio

'Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening