Peringatan Maria Berdukacita, 15 September 2017

Ibr 5: 7-9 + Mzm 31 + Yoh 19: 25-27

 

 

Lectio

Pada saat itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

Meditatio

Pada saat itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, Maria. Kita dapat membayangkan kepedihan hati seorang ibu. Hatinya tersayat oleh derita yang disandang oleh sang Putera. Sebilah pedang akan menembus jiwamu, sebagaimana dikatakan oleh Simeon mencapai puncak kepedihannya ketika Maria melihat dengan mata kepala sendiri derita yang ditanggung oleh sang Putera. Maria dibuat tidak berdaya. Jeritan tangis dan keluhan Maria tentunya tidak akan mengubah derita sang Putera.

Bagi Yesus, tangisan sang ibu juga tidak akan mengubah kehendak Bapa yang mengutusNya. Namun Yesus percaya, Maria adalah seorang perempuan perkasa dalam hidupnya. 'Ibu, inilah, anakmu!', kata Yesus kepada sang ibu. Yesus tidak menghiburnya, malah memberi kepercayaan untuk mendampingi para murid yang memang amat rentan dalam memanggul salib kehidupan ini. Kepedihan hati sepertinya tanda betapa rapuhnya diri seseorang, dan Yesus memberi penuh kepercayaan agar berani bangun untuk melangkahkan kaki ke masa depan yang indah. Pemberian tugas kepada sang ibu, Yesus malah meminta agar seseorang dapat selalu bangkit berdiri kembali melanjutkan segala panggilan hidup yang diterimanya. Tugas Maria tidaklah selesai dengan kematian sang Putera, sebaliknya memasuki babak baru mendampingi para murid dalam karya pelayanan kepada sesama.

Surat Paulus kepada umat Ibrani menegaskan: 'dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan' (Ibr 5: 7). Demikian juga derita Maria tidak menenggelamkan dirinya dalam duka yang berkepanjangan, melainkan kepercayaan sang Putera yang semakin besar terhadap dirinya. Maria disertai Yesus dalam mendampingi para muridNya, dan tanpa diucapkannya Maria berseru aku ini ibuMu, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Sebab Maria tidak menolak tugas yang diberikan kepadanya, dia menerima dengan sukacita sebagaimana ditandakan oleh para murid, bahwasannya sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, dampingi dan bantulah kami dalam memanggul salib kehidupan kami, agar ketika menghadapi situasi yang terberat sekalipun kami masih mampu mengamini tiap sabdaMu dan melakukannya.

Bunda Maria, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening