Rabu Pekan Biasa XXII, 6 September 2017

Kol 1: 1-8 + Mzm 52 + Luk 4: 38-44

 

 

Lectio

Pada waktu itu Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

 

Meditatio

Pada waktu itu Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Apa tiba-tiba saja Yesus beserta para muridNya hendak pergi ke rumah Simon? Atau memang sudah terencana? Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Di sini Lukas menyebut dengan tegas, bahwa demam adalah penyakit, dan bukanlah sesuatu yang lain seperti bisu, yang disebabkan oleh suatu setan yang membisukan (Luk 11: 14). Kita dapat menemukan ayat-ayat lain sekedar untuk membandingkannya. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Jiwa perempuan memang sepertinya begitu tanggap dengan aneka situasi.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Dari mana mereka semua mendengar bahwa Yesus ada di rumah Simon? Bukankah media komunikasi belum secanggih seperti sekarang ini? Kehadiran Tuhan Yesus memang selalu didengarkan oleh banyak orang. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Yesus penuh belaskasih terhadap orang-orang yang dikasihiNya. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: 'Engkau adalah Anak Allah'. Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Mengapa Yesus melarang mereka? Apakah memang Yesus ingin setiap pengakuan kepada diriNya itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam, dan bukannya ikut-ikutan? Atau memang Yesus juga tidak mau diwartakan oleh kuasa kegelapan?

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Ke manakah Yesus pergi? Untuk apa Dia pergi ke tempat yang sunyi? Tentunya untuk berdoa, tetapi mengapa tidak mengajak para muridNya? Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Apakah ada seseorang yang merelakan rumahnya menjadi tempat tinggal Yesus, sebagaimana yang pernah diusulkan oleh Simon Petrus ketika mereka berada di gunung tinggi? Tetapi Ia berkata kepada mereka: 'juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'. Yesus tidak ingin dibatasi oleh keinginan orang-orang yang dikasihiNya. Yesus tidak mau melayani sebatas konsep pikiran orang-orang yang dikasihiNya, sebagaimana yang diinginkan juga oleh Simon Petrus seperti yang kita renungkan hari Minggu kali lalu. Allah menghendaki semua orang beroleh selamat. Yesus tidak ingin dicari oleh banyak orang, malah sebaliknya Dia mencari banyak orang, dan itulah yang dilakukan dengan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat.

Kita pun adalah orang-orang yang mendengarkan pewartaan Injil Kerajaan Allah. Bagaimana kita dalam mendengarkan Injil itu. Kita pun kiranya merindukan ucapan syukur seorang Paulus, yang 'telah mendengar tentang iman kita dalam Kristus Yesus dan tentang kasih kita terhadap semua orang kudus', dan ucapan 'Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya', sebagaimana disampaikan kepada umat Kolose  (Kol 1: 1-8), juga hendaknya disampaikannya kepada kita.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau datang untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kiranya kami yang telah mendengarkan sabdaMu ini mampu menyampaikan kabar sukacita ini kepada sesama lewat perbuatan dan sikap kami, sehingga semakin banyak orang mengalami kasihMu. Amin

 

Contemplatio

'Di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening