Rabu Pekan Biasa XXIV, 20 September 2017

1Tim 3: 14-16 + Mzm 111 + Luk 7: 31-35

 

 

Lectio

Dalam pengajaranNya Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.  Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.  Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

 

Meditatio

"Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?", kata Yesus kepada orang-orang yang mendengarkanNya. Yesus sepertinya sampai bingung mengajar mereka. Begitu degilkah mereka itu, sehingga seorang Yesus saja mengalami kesulitan menghadapi mereka. "Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis". Mereka itu sepertinya tidak mau tahu terhadap orang lain. Mereka tidak memberi perhatian terhadap orang lain yang ada di depan mata mereka. Mereka sibuk dengan diri sendiri, seperti orang-orang sekarang Ini yang sibuk dengan hp-nya. "Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa". Mereka melihat sesuatu bukan berdasarkan apa yang mereka lihat, kenyataan yang ada, melainkan berdasar pada pikiran dan kemauan diri sendiri. Itupun bukan hal positif yang mereka katakan, melainkan perihal negatif sekeinginan mereka. Teguran Yesus kepada Petrus enyahlah engkau iblis, sebab engkau hanya memikirkan yang dipikirkan oleh manusia, dan bukan oleh Allah, sepertinya harus juga disampaikan kepada mereka.  Satu hal yang perlu kita ingat juga: bukankah kita ini memang mempunyai kemampuan 'posisi paranoid skizoid' sebagaimana dikatakan Limas Susanto dalam Kompas 15 September kemarin lalu. Mereka melihat orang lain sebagai yang harus diwaspadai, dijauhi, dimusuhi, bahkan dibinasakan. Kehadiran Yesus Tuhan itu tidak diperlukan, kalau pun sudah ada harus dijauhi dan dilawan.  

"Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya." Sebuah penegasan dari Yesus sendiri, bahwa maksud Allah tidak akan berubah dengan adanya penolakan dari manusia; dan itu diamini oleh orang-orang yang percaya kepadaNya. Sebab memang pada dasarnya setiap orang menghendaki keselamatan dan keabadian, dan itu hanya dapat diperoleh dalam Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Kehadiran Yesus harus berani kita amini karena memang Dialah Allah yang menjadi manusia, dan hanya Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup. 'Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan' (1Tim 3: 16), sebagaimana yang diimani Paulus dan disuratkannya kepada Timotius.

 

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kamipun sering egois dan tidak memperhatikan sesama di sekitar kami, ampunilah kami ya Yesus. Dan mampukan kami untuk berani mengamini setiap sabdaMu yang mendatangkan keselamatan, sebab Engkaulah Allah yang empunya kehidupan. Amin

 

Contemplatio

'Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening