Sabtu Pekan Biasa XXV, 30 September 2017

Za 2: 1-5 + Mzm + Luk 9: 43-45

 

 

Lectio

Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

 

 

Meditatio

Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia'. Mengapa Yesus berkata-kata seperti itu? Apakah Dia mau mematahkan kekaguman banyak orang tentang diriNya? Yesus sepertinya mengingatkan, bahwa kemuliaan Tuhan Yesus tidaklah ditampakkan dalam pelbagai karya mukjizat yang sering menjadi kebanggaan dan kekaguman banyak orang, bukan pula ketika Dia menampakkan kemuliaan surgawi di gunung bersama Simon, Yakobus dan Andreas. Bukankah Yesus juga selalu melarang para murid dan mereka yang melihatNya tentang segala sesuatu yang dilihat dan dialami  mereka? Kemuliaan Yesus memang hendak ditampakkan secara sempurna ketika Dia bergantung di kayu salib, ketika Dia menarik semua orang kepadaNya, ketika Dia mengakhiri tugas perutusanNya. Yesus menampakkan kemuliaan sebagai Mesias Putera Allah yang hidup ketika Dia bergantung di kayu salib. 'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia', karena memang Yesus akan mati di kayu salib, bukan oleh orang-orang yang ada di sana, melainkan di tangan orang-orang yang dikasihi, umatNya sendiri, yang semuanya akan diterimaNya sebagai kurban tebusan bagi seluruh umat manusia.  

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Sikap Petrus yang menarik Yesus ke samping, karena tidak menghendaki sang Mesias menderita ternyata menghinggapi banyak orang. Yesus tidak memarahi ketidakmampuan mereka, Yesus hanya menegur keras kedegilan hati mereka yang mau mencari kepuasan diri. Yesus memahami umatNya, 'sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu', kata Yesus (Yes 55: 8-9). Lagi pula mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Malu bertanya sesat di jalan. Itulah yang memang terjadi di banyak tempat. Apakah kalau umat Israel pada jamanNya berani bertanya dan bertanya kepada Mesias membuat Yesus akan mengubah program kehidupanNya sebagai Mesias? Bukankah Yesus sudah berkata: 'kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti?' (Luk 8: 10). Allah tidak akan mengubah program keselamatan yang semenjak semula telah direncanaNya agar semua selamat. Sebab keberanian umat bertanya tetap mengandaikan setiap orang untuk berani memilih yang terbaik dengan menjual harta yang dimiliki dan membeli Mutiara yang ditemukannya.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, karena dosa-dosa kami Kau rela menebusnya dengan wafat di salib. Maka bantulah kami agar semakin memahami makna pengorbananMu ini dan dapat memilih yang terbaik dalam hidup ini dengan mendengarkan dan melakukan kehendakMu. Amin

 

Contemplatio

'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia'.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening