Selasa Pekan Biasa XXIV, 19 September 2017

1Tim 3: 1-13 + Mzm 101 + Luk 7: 11-17

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"  Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.  Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Kita dapat membayangkan, bahwasannya Yesus pergi kemana saja selalu berbondong-bondong dengan mereka yang mengikutiNya. Tentunya kepergianNya menarik hati banyak orang, karena rombongan besar yang menyertaiNya. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Kita dapat membayangkan ibu janda satu itu yang tidak mempunyai pegangan apa-apa dengan meninggalnya anak tunggalnya itu. Kematian suaminya tentunya mengundang kepedihan, demikian pula sekarang kematian anak tunggalnya. Tak dapat disangsikan, banyak orang melayatnya. Baik ibu atau anaknya sepertinya mempunyai nama harum di antara orang-orang Nain, sehingga mereka begitu setia mendampinginya untuk menguburkan anak tunggal itu.

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: 'jangan menangis!'. Yesus menaruh hati pada ibu janda itu, dan bukannya kepada dia yang telah meninggal. Mengapa tidak menaruh hati kepada anak yang mati itu? Bukankah tidak ada orang hidup, hidup bagi dirinya sendiri, atau mati, mati bagi dirinya sendiri? Bukankah kita hidup atau mati milik Tuhan? Yang hidup sepertinya harus diutamakan.  Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: 'hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!'. Mengapa Yesus membangkitkan anak muda itu? Apakah Dia hendak menunjukkan kuasa atau belaskasihNya? Apakah Dia membangkitkan anak muda itu karena sang ibunya yang sudah janda itu tidak mempunyai pegangan hidup lagi? Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Yesus membangkitkan anak itu dan mengembalikannya kepada pemiliknya, karena memang sang pemilik lebih membutuhkannya. Yesus tahu akan kebutuhan umatNya, orang-orang yang dikasihiNya. Demikian seharusnya setiap orang yang memberanikan dirinya sebagai pemilik jemaat (1Tim 3: 1-13), dia harus berani menjadi sesama bagi orang-orang yang dilayaninya. Perhatian Yesus kepada sang ibu tadi juga menunjukkan, bahwa seorang pemilik jemaat pun pertama-tama harus mempunyai hati bagi keluarga sebelum melangkah keluar menjalankan tugas-tugasnya.

Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah. Mereka semua kagum dan takjub akan segala yang terjadi. Semuanya bisa terjadi hanya karena Allah. Benarlah seruan mereka:  'Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita', dan 'Allah telah melawat umat-Nya'. Di daerah ini Yesus tidak melarang mereka untuk memberitakan siapakah diriNya (bdk Mat 12 dan 16). Kenapa Yesus tidak melarang mereka?  Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau mengetahui segala kebutuhan umatMu dan memberi yang terbaik pada waktunya. Maka kami mohon, teguhkanlah iman kami kepadaMu agar tetap menaruh harapan ketika menghadapi pencobaan dan tantangan  dalam hidup kami. Amin

 

Contemplatio

'Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: 'jangan menangis!'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening