Selasa Pekan Biasa XXV, 26 September 2017


Ezr 6: 7-20 + Mzm 122 + Luk 8: 19-21

 

 

Lectio

Pada suatu hari ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.  Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

 

 

Meditatio

Pada suatu hari ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Ada keperluan apa Maria dan para saudara Yesus datang dan mencari Dia? Darimana mereka? Adakah keperluan khusus? Siapakah yang disebut saudara-saudara Yesus? Ada berapa orang yang datang mencari Yesus? Mereka terhalang berjumpa dengan Yesus, karena memang bukannya orang yang berkerumun mengelilingi Yesus.  Orang memberitahukan kepada-Nya. Baik kali orang itu. Adakah dia hendak mencari simpati? 'Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau', seru orang baik itu. Mengapa dia tidak menyapa Yesus dulu dengan kata-kata Guru atau Tuan? Apakah dia merasa lebih tua, sehingga tidak menyapa Dia terlebih dahulu? Apakah dia seorang ahli Taurat atau orang Farisi, yang sama-sama mempunyai kemampuan sama dalam mengajar? Apakah dia juga mengajak keluargaNya itu maju ke depan?

'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya', sahut Yesus langsung pada inti persoalan. Yesus tidak bertanya siapakah mereka? Yesus pun tidak meminta ibu dan para saudaraNya itu sejenak menunggu. Yesus langsung berseru pada maksud dan tujuan. Keluarga Yesus bukanlah soal biologis, lebih pada kesatuan dalam sabda dan kehendak Tuhan. Sebab memang bukankah Yesus itu Tuhan Allah? Bukankah Dia tidak diperanakkan atau dijadikan oleh siapapun? Bukankah Dia sang Pencipta segala sesuatu? Dia ada dari semula, sebelum segala ada? Dia memang dilahirkan karena Dia amat menghormati proses kehidupan manusia. Dia datang ke dunia, bukan karena semata-mata jasa seorang ibu atau seorang ayah. Dia datang seturut kehendakNya, yang memang mau menjadi manusia sama dengan kita manusia, kecuali dalam dosa. Karena Yesus datang hanya karena kehendak Allah Bapa yang mengutusNya, maka mereka yang menyatukan diri dalam sabda dan kehendak Bapa berarti saudara Dia, seperutusan tugas denganNya.

Umat Israel pun merasa satu saudara sebagai bangsa yang kudus ketika mereka kembali ke Yerusalem dan dapat merayakan Paskah bersama. Mereka disatukan kembali dalam kurban anak domba yang disembelih (Ezr 6). Mereka merasa satu bagian hidup dan milik Allah, karena sabda Allah, karena kurban Paskah, karena baitNya yang kudus. Semuanya itu menyatukan mereka semua sebagai umat milik Allah.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ampunilah kami karena seringkali ketika melakukan sesuatu hal kami merasa, bahwa ini adalah kelompok/komunitas saya, dan yang ini bukan. Lewat sabdaMu hari ini mengajarkan kami, bahwa yang mendengarkan dan melakukan kehendakMu itu lah saudara-saudari kami juga. Kiranya kami semakin dimampukan dalam melayani sesama tanpa membedakan satu sama lain. Amin

 

Contemplatio

'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening