Senin Pekan Biasa XXIII, 11 September 2017


Kol 1: 24-30 + Mzm 62 + Luk 6: 6-11

 

 

Lectio

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.  Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"  Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

 

Meditatio

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Inilah kejahatan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang memang hendak mencari kesalahan Yesus. Mengapa mereka begitu antipati terhadap Yesus? Apakah merasa status sosial mereka tergerus oleh kehebatan Yesus, yang mana banyak orang akan semakin terpanah pada Guru dari Nazaret ini? Kalau mereka melihat Yesus sebagai Mesias tentunya tidak akan memperlakukan Yesus seperti itu.

Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka. Kebodohan mereka adalah mencobai Dia yang Maha tahu. Lalu  Yesus berkata kepada orang yang mati tangannya itu: 'bangunlah dan berdirilah di tengah!'. Yesus pasti mempunyai rencana untuk mencelikkan hati dan budi mereka. Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya mudah dijawab, tetapi menjadi tamparan bagi mereka sehingga beratlah mereka menanggapiNya. Pertanyaan itu adalah sebuah tamparan bagi mereka, karena mereka pasti tahu jawaban benar yang harus mereka katakan. Mereka bukan orang-orang bodoh. Mereka hanya ingin menjebak Yesus dengan perbuatan yang dilakukanNya. Mereka pasti akan menjawab yang menyelamatkan nyawa,  tetapi mereka termakan oleh sikap mereka yang tidak mau bertanggungjawab.

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: 'ulurkanlah tanganmu!'. Yesus malah secara sengaja melakukan semuanya itu secara demonstrative. Bukankah Dia itu Tuhan atas hari Sabat? Hari Sabat diadakan untuk manusia agar semua orang beroleh selamat. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Yesus menjadikan segalanya baik adanya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. Mereka bukannya malu dan bertobat, malah sebaliknya semakin marah, dan mencari cara lain untuk menjerat Yesus.

Kalau orang-orang Farisi dan ahli Taurat mencari kemauan diri dan menjerat sesamanya, tidaklah demikian dengan Paulus ahli kitab suci yang satu itu. 'Sekarang aku bersukacita, bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat'. Paulus malah berbangga dapat berjuang dan menderita demi Yesus Kristus. Kalau para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ingin menjerat Yesus, sebaliknya Paulus dengan kepandaian kitab suci yang dimilikinya, dia malah merunduk kepadaNya, karena dia tahu siapakah yang dipercayainya itu. Malah 'Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya' (Kol 1: 24-26). Paulus bukan saja berunduk kepada Yesus, melainkan juga kepada umat yang dilayaninya, karena memang itulah panggilan hidupnya. Paulus telah menerima banyak, banyak pula kini dia harus berani memberi dan memberi.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu mengutamakan kepentingan dan keselamatan sesama di atas hukum dan aturan yang ada, seperti Engkau sendiri karena kasihMu, datang ke dunia demi menyelamatkan umat manusia. Amin

 

Contemplatio

'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening