Senin Pekan Biasa XXIV, 18 September 2017

1Tim 2: 1-8 + Mzm 28 + Luk 7: 1-10

 

 

Lectio

Suatu hari masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.  Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.  Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,  sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."  Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

 

 

Meditatio

Suatu hari masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sepertinya orang yang baik, dan bisa mengerti apa yang menjadi keperluan tuannya sehingga dapat melayani sang perwira dengan baik dan tepat guna. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.  Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Perwira itu sepertinya juga tidak mau kehilangan sang hambanya yang baik dan setia. Dia mendengar kebaikan hati sang Guru, maka memintalah dia bantuan kasih dari Yesus. Hanya dia tidak berani menghadap sendiri kepada sang Guru. Mengapa? Bukankah dia yang membutuhkan?  Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: 'Ia layak Engkau tolong,  sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami'. Ada belaskasih dan balas jasa yang menyelimuti tua-tua Yahudi ini, sehingga mereka merengek-rengek di hadapan Yesus. Perwira itu sangat baik dan telah banyak berjasa kepada bangsa Yahudi. Baiklah kalau Yesus atas nama bangsaNya yang kudus itu memberi pertolongan yang diharapkannya.

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: 'Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu'. Inilah alasan sang perwira yang tidak berani menjumpai Yesus sendiri, karena merasa tidak layak dan pantas. Menjumpai saja tidak berani, apalagi kini harus menerimaNya. Amat rendah hati dan sederhana kali perwira satu ini. 'Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya'. Hebat kali perwira satu ini. Dia benar-benar percaya akan kata-kata Tuan dari Nazaret ini.  Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: 'Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!'. Seharusnya orang Israel yang berkata seperti ini, dan bukan orang lain. Selama ini pun Yesus belum pernah mendengarkan kata-kata yang mengungkapkan iman kepercayaan Israel sebagai bangsa yang kudus dan terpilih.

Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali. Apakah Yesus mengatakan sepatah kata berkaitan dengan hamba perwira yang sakit? Apa yang dikatakanNya?  Lukas tidak menceritakannya, tetapi tak dapat disangkal iman sang perwira tadi menjadi pedoman bagi setiap orang dalam berharap kepada Tuhan yang penuh belaskasih.

Permohonan perwira tadi sepertinya juga menjadi format dalam doa; di mana kerendahan hati dan kepercayaan hendaknya menjadi akar dalam setiap doa permohonan dan pujian. Doa permohonan dan pujian hendaknya menjadi satu kesatuan, sebab semuanya ini menunjukkan kerendahan dan keberserahan diri seorang anak manusia terhadap keagungan dan kemuliaan Tuhan, dan hanya padaNya kita harus berunduk dan memohon pertolonganNya. Paulus dalam suratnya menuliskan: 'aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, dan aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan' (1Tim 2: 2-3).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, sabdaMu hari ini kiranya menyadarkan kami, bahwa sesungguhnya kami tidak layak dihadapanMu, hanya karena belaskasihMu kami Kau angkat dan Kau selamatkan. Maka bantulah kami ya Yesus, dengan penuh kerendahan hati  untuk selalu bermohon dan berharap kepadaMu. Amin

 

Contemplatio

'Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening