Jumat Pekan Biasa XXIX, 27 Oktober 2017

Rm 7: 18-25 + Mzm 119 + Luk 12: 54-59

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus berkata pula kepada orang banyak: 'apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus berkata pula kepada orang banyak: 'apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi; dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi'. Inilah salah satu isi pengalaman hidup, yang mampu menilai dan mencermati peristiwa kehidupan, dan akhirnya membuat sebuah kesimpulan agar dapat menentukan langkah ke depan dengan lebih baik. Pengalaman adalah ibu aneka pengetahuan.

'Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?', tegur Yesus kepada mereka semua yang mendengarkanNya itu. Realitas kehidupan sehari-hari kiranya menjadi bahan refleksi bagi setiap orang, yang tentunya agar hidup lebih indah dan membahagiakan. 'Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?'. Mengapa ragu-ragu? Bukankah pengalaman hidup telah memberikan arahan untuk selalu menikmati hal yang benar dan baik? Bukankah kita sudah menikmati, jikalau pilihan kita tepat dan benar, kita merasakan sukacita dan damai? Contoh, 'jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Pendamaian adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik atau persoalan yang terjadi. Kalau kita mampu menyelesaikan secara pribadi dalam dialog dan tanpa melibatkan pihak ketiga, mengapa kita tidak menyelesaikannya? Pendamaian adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan  konflik dan menyembuhkan luka-luka batin.

'Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa' (Rm 7: 26), kata Paulus. Inilah yang terjadi dalam diri Paulus, dan tentunya dalam diri kita juga. Hanya dengan akal budi kita dapat memilih dan memutuskan mana yang baik yang harus aku ikuti. Kita dibiasakan untuk berani mengambil dan memilih yang terbaik berdasar pengalaman kita. Kalau  rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini, itulah permintaan Yesus kepada kita, agar kita mengambil keputusan. Akal budi adalah anugerah Allah, maka tentunya kita harus mampu mempertanggungjawabkan segala pilihan hidup ini.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami agar mampu mengampuni satu sama lain, peka dalam mengenali hal yang baik serta mempertanggungjawabkannya. Sehingga kamipun dapat menikmati damai dan sukacita. Amin

 

Contemplatio

'Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?',



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening