Kamis Pekan Biasa XXVI, 5 Oktober 2017

Neh 8: 1-12 + Mzm 19 + Luk 10: 1-12

 

 

Lectio

Suatu hari Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

 

 

Meditatio

Suatu hari Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Yesus tidak menyebut nama Yesus, melainkan Tuhan. Mengapa? Adakah keistimewaannya? Tuhan mengutus mereka berdua-dua, guna saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lainnya, sekaligus saling mengkoreksi bila ada kesalahan di sana-sini. Bukankah dengan penyampaian dua orang, kata-kata mereka dapat diyakini kebenarannya? Hanya saja mengapa Yesus mengutus mereka mendahului kedatanganNya? Ada keragu-raguan Yesus? Kedatangan Yesus memang bisa dinikmati dengan adanya pertobatan hati terlebih dahulu, tetapi sejauh itukah sehingga Yesus perlu mengutus para murid mendahuluiNya?

Kata-Nya kepada mereka: 'tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu'. Kenapa para murid diminta untuk meminta kepada sang Empunya tuaian untuk mengirimkan pekerja-pekerjaNya ke kebun anggur? Kalau Dia sudah mengetahuinya, mengapa Dia tidak langsung mengirimkannya? Bukannya semuanya itu demi kepentingan kebun anggur yang dimilikiNya? Apakah dengan ajakan meminta kepada sang Empunya tuaian dimaksudkan agar mereka ikut terlibat dan bertangunggungjawab atas perkembangan kebun anggur? Bukankah mereka juga pada akhirnya akan menjadi para pemilik kebun anggurNya yang kudus, dan mereka adalah orang-orang yang telah dipercayai untuk menggarapnya?

'Pergilah', inilah permintaan kedua dari Yesus kepada para muridNya, 'sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'. Perutusan yang diterima para murid ternyata mengandung resiko yang amat berat; bahkan sepertinya mereka harus siap berserah nyawa dalam tugas perutusan itu. Apakah memang Yesus secara sengaja menjurumuskan mereka menghadapi kenyataan hidup yang mematikan? Menjadi murid Yesus yang sesungguhnya memang tidak mengenakkan; dia harus siap sedia memanggul salib, bahkan harus siap menerima kenyataan hidup yang tidak mengenakkan. Dia harus siap mati.

'Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut', tegas Yesus. Membawa pundi saja tidak diperkenankan, apalagi membawa senjata tajam untuk menghadapi aneka gangguan dan rintangan. 'Dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan'. Penegasan ini hendak mengingatkan para murid agar memperhatikan pokok dan inti tujuan perutusan mereka. Janganlah aneka hal yang menarik yang akan mereka temui sempat memberhentikan dan mengecoh perhatian mereka.

'Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya; tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu'. Tugas perutusan yang diberikan Yesus tidaklah menutup segala kebaikan yang ditaburkan oleh Tuhan sendiri melalui orang-orang yang dikasihiNya. Penegasan Yesus di atas, bagaikan anak domba ke tengah-tengah serigala, boleh diartikan agar para murid berani menghadapi kenyataan hidup yang tidak diinginkan. 'Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah'.

Lebih lanjut Yesus menegaskan: 'jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu'. Terimalah yang disediakan dan jangan sampai merepotkan mereka. Menerima dengan sukarela segala yang diberikan adalah wujud terima kasih dan syukur kita kepada Tuhan, dan membuat tuan rumah senang adanya. 'Sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu'. Inilah pewartaan yang harus disampaikan oleh para murid. Kerajaan Allah sudah dekat, karena memang sebentar lagi Dia sang Empunya Kerajaan akan segera datang, dan kami datang hanya ingin membuat semua orang bersiap sedia menerima dengan penuh sukacita.

'Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat'. Penolakan akan terjadi, bahkan mereka siap menerima terkaman bagaikan serigala yang mengaum-aum mencari mangsanya. Namun demikian tetap harus diwartakan bahwa Kerajaan sudah dekat. Allah akan tetap mengunjungi umatNya. Yesus tetap akan melawat mereka, walau ada penolakan. Sebab bukankah Allah menghendaki agar semua orang bertobat dan beroleh selamat? 'Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu'. Kedegilan hati orang-orang yang tidak mau menerima mengandaikan mereka siap sedia menerima malapetaka sebagaimana terjadi pada Sodom dan Gomora yang tidak mau bertobat, bahkan lebih parah dari yang pernah terjadi.

Mengapa mereka menolak pengajaran para murid? Apakah mereka lupa apa yang dikatakan Nehemia, bahwasannya sabda Tuhan itu menguduskan mereka dan perlu disambut dengan penuh sukacita? (Neh 8: 1-13). Sangatlah keliru memang orang-orang yang menolak sabda dan kehendak Tuhan yang menyelamatkan itu.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kami percaya walaupun kami menghadapi banyak tantangan dan persoalan dalam tugas pelayanan ini, Engkau mendampingi dan menguatkan kami selalu, tidak pernah Engkau membiarkan kami berjalan sendiri. Terima kasih ya Yesus. Amin

 

Contemplatio

'Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala'.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening