Rabu Pekan Biasa XXVI, 4 Oktober 2017

Neh 2: 1-8 + Mzm 137 + Luk 9: 57-62

 

 

Lectio

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

 

 

Meditatio

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: 'Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi'. Sebuah kemauan baik yang benar-benar patut dihormati, tetapi tentunya Yesus melihat isi hati setiap orang. Kita hanya melihat yang terlihat mata, dan mendengar yang tertangkap telinga, tidak seperti Yesus Tuhan yang mampu melihat isi hati setiap orang. Mendengar permintaan itu, Yesus segera menjawabnya: 'serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya'. Yesus tidak menjawab mari dan lihatlah,  sebaliknya mengingatkan akan keberadaan diriNya yang tidak mempunyai perbendaharaan yang bisa dibanggakan. Orang itu tadi mau mengikuti Yesus apakah setelah membandingkan dengan para guru lain, yang tentunya mempunyai perbedaan satu dengan lainnya, minimal seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang nyaman hidupnya, mengingat mereka telah menduduki kursi Musa? Mengikuti Yesus berarti siap untuk tidak mempunyai apa-apa.

Lalu Yesus berkata kepada seorang lain: 'ikutlah Aku!'. Yesus mengingatkan dan menegaskan kemauan seseorang yang hendak mengikutiNya, tetapi di lain pihak Dia mengajak orang lain, yang tidak mengusulkan dirinya. 'Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku', seseorang yang diajakNya itu. Dia minta waktu terlebih dahulu untuk menghormati orangtuanya. 'Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana'. Apa maksud Yesus dengan jawabanNya ini? Bukan penghormatan dan doa restu orangtua amat berguna dalam perjalanan hidup sehari-hari? Penyataan Yesus sepertinya hendak menegaskan, bahwa jawaban akan panggilan Tuhan hendaknya mendapatkan perhatian pertama dan utama daripada lainnya, termasuk dari kedua orang tua dan keluarga. Bukankah Yesus juga pernah mengatakan barangsiapa mengasihi orangtuanya dan anak-anaknya lebih daripadaKu, dia tidak pantas menjadi muridKu? Seseorang yang hendak mengikuti Kristus tidak boleh terkukung oleh sikap belaskasih terhadap sesamanya. Itu baik, tetapi kiranya kehendak Tuhan harus diutamakan di atas segala-galanya.  

Seorang lain lagi berkata: 'aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku'. Mengapa seseorang masih harus memberi isyarat kepada dirinya, bahkan kepada Tuhan Allah sendiri, kalau dia hendak mengikuti sang Empunya kehidupan ini. Bukankah seharusnya memang kata-kata itu tidak perlu diucapkan, kalau memang dia siap mengikuti Kristus. Janganlah kita berbicara masa depan, kalau ternyata kenyataan sekarang belum bisa kita pahami dan selesaikan. Maka tepatlah kalau Yesus menjawab orang itu dengan mengatakan: 'setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah'.

Mereferensi pada pengalaman Nehemia (Neh 2: 1-8), kebaikan Tuhan itu seringkali kita terima melalui sesama kita, atau bahkan segala kebaikan sesama yang kita terima itu adalah wujud nyata kebaikan Tuhan terhadap umatNya. maka ucapan syukur dan kepatuhan hendaknya kita sampaikan pertama-tama kepada Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan. Bukankah sesama kita, dan tentunya kita sendiri, diminta untuk menjadi saluran berkat Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita?

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau menghendaki kami mengutamakan kehendakMu dalam tugas perutusan kami masing-masing, tetapi seringkali kami masih berat untuk melepaskan keegoan kami. Maka tolonglah kami ya Yesus, agar semakin memahami sabdaMu dan belajar melakukannya. Amin

 

Contemplatio

'Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana'.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening