Selasa Pekan Biasa XXX, 31 Oktober 2017

Rm 8: 18-25 + Mzm 126 + Luk 13: 18-21

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat,  kataNya: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?  Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."  Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?  Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat, kataNya: 'seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?'. Mengapa Yesus berkata-kata seperti ini? Apakah Dia kehabisan perumpamaan yang mempermudah pengajaranNya? Atau memang hanya ingin menarik perhatian banyak orang dalam pengajaran saat itu? Yang jelas tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan diwartakan. Segala wahyu Allah akan disampaikan kepada seluruh umat manusia yang merindukan keselamatan.

'Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Kerajaan Allah itu memang perihal kecil dan remeh, dan tidak menjadi perhatian banyak orang. Namun jika dibiarkan tumbuh dan berkembang akan menjadi kesukaan hati banyak orang. Membiarkan kerajaan Allah tumbuh dan berkembang dalam diri kita akan membuat hidup kita semakin indah, dan bahkan produktif. Pembiaran Allah meraja dalam hidup kita akan membuat kita mampu melakukan aneka banyak hal yang indah.

'Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'. Pembiaran Allah bekerja dalam diri kita juga akan menyatukan. Kesatuan hati dengan sesama amat dimungkinkan kalau memang setiap orang membiarkan diri Allah meraja dalam hidup kita. Atau sebaliknya kerukunan dan paguyuban benar-benar membuktikan Allah berkarya dalam hidup kita. Paguyuban hidup menunjukkan, bahwa setiap orang menghayati imannya dengan penuh sukacita. Kesatuan hati sebagai umat Allah memang menunjukkan bahwa setiap orang menghayati imannya. Tanpa iman, kerukunan dan kesatuan hati tidak akan terjadi dalam hidup bersama.

Di dalam perumpamaan ini mengandaikan, bahwa kerajaan Allah juga mengalami proses perkembangan sebagaimana proses kehidupan manusia. Ada tantangan dan rintangan dalam pertumbuhan Kerajaan Allah. Tumbuhnya biji sesawi tidak hanya semalam, melainkan ada dalam proses kehidupan yang dituntut kesabaran dan pengharapan. Kita pun demikian dalam merindukan kehadiran kerajaan Allah dalam hidup ini. Ada tantangan dan rintangan. Paulus mengingatkan, 'bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita'. Barangsiapa bertahan sampai akhir akan beroleh selamat, kata Yesus juga. Ingatlah. 'dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan', demikian kita pula (Rm 8: 18-19).

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, rajailah hati kami, agar kamipun tumbuh dan berkembang dalam hidup bersama, dan mendatangkan sukacita yang menyatukan kami satu sama lain sebagai umatMu dalam mencapai keselamatan. Amin

 

Contemplatio

'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening