Senin Pekan Biasa XXIX, 23 Oktober 2017

Rm 4: 20-25 + Mzm + Luk 12: 13-21

 

 

Lectio

Suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

 

 

Meditatio

Suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: 'Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku'. Berani juga orang ini berkata-kata tentang warisan. Apakah dia anak sulung atau bungsu? Kenapa mereka ribut? Mengapa dia meminta bantuan Yesus, dan bukan kepada orang lain? Apakah dia seseorang yang begitu percaya kepada Yesus sehingga meminta bantuan daripadaNya? Tetapi Yesus berkata kepadanya: 'saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?'. Yesus tidak menanggapinya dan masuk dalam persoalan keluarga mereka. Malahan Yesus berkata kepada mereka semua: 'berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu'. Yesus menggunakan segala peristiwa kehidupan untuk mengajar para muridNya, orang-orang yang percaya kepadaNya. Yesus mengingatkan mereka akan adanya ketamakan yang menyelimuti hati banyak orang, bahkan orang bisa berebut, dan kemungkinan besar orang yang bertanya ini dalam keadaan ribut dengan saudaranya, sehingga meminta Yesus menjadi penengah. Ketamakan akan harta benda menenggelamkan orang dalam jurang neraka, padahal hidup sekarang ini tidak bergantung pada kekayaan. Tak dapat disangkal, setiap orang perlu mempunyai kekayaan, setiap orang harus bekerja supaya dapat makan, tetapi hidup seseorang tidak bergantung dan tidak ditentukan oleh kekayaan. Ada banyak orang kaya yang hidupnya tidak tentram dan selalu gelisah. Kekayaan tidak menjadi jaminan hidup damai dan ketentraman.

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: 'ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?'. Harta orang itu utuh dan terjamin, tidak ada orang yang mengambil, tetapi dia lupa akan sang Penguasa kehidupan. Dia sendiri tidak menjaga jiwa dan hidupnya. Dia memang kaya akan harta benda; harta dia jaga dan dirawatnya, tetapi tidaklah demikian dengan dirinya sendiri. Maka tepatlah apa yang kemudian dikatakan Yesus: 'demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah'. Sekali lagi dia tidak menjaga dan merawat hidupnya sendiri. Hidupnya miskin karena tidak dijaganya, dan hidupnya hilang, karena tidak dijaganya.

'Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah' (Mat 4: 4), tegas Yesus dalam aneka cobaan hidup. Sandang, papan dan pangan memang menjadi kebutuhan dasar setiap orang, tetapi kiranya kita juga harus berani membekali hidup ini hanya dengan makanan yang hanya dapat kita nikmati hidup di dunia ini, melainkan juga dengan sabda Tuhan yang menghantarkan kita kepada kehidupan kekal. Sabda Tuhan menyambung hidup kita di dunia ini sampai selama-lamanya. Sungguh benar memang, kita harus berani mengandalkan Tuhan, dan bukannya harta benda yang kita miliki. Sebab keberanian kita mengandalkan Tuhan, kita pun akan mendapatkan keselamatan sebagaimana yang telah dinikmati Abraham. Segala perhitungan yang dikenakan Allah kepada Abraham juga dikenakan kepada kita orang-orang yang percaya kepadaNya (Rm 4: 23-24).

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami agar berani bergantung kepadaMu, sebab Engkaulah sumber keselamatan kami. Segala kekayaan dan harta kiranya tidak membuat kami jauh daripadaMu, tetapi justru semuanya itu kami gunakan sebagai sarana dalam memuliakan namaMu. Amin

 

Contemplatio

'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening