Senin Pekan Biasa XXX, 29 Oktober 2017

Rm 8: 12-17 + Mzm 68 + Luk 13: 10-17

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.  Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.  Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."  Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.  Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat."  Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?  Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"  Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

 

 

Meditatio

Suatu hari Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Bukankah memang Dia Anak Manusia harus tinggal di rumah Bapa, sebagaimana pernah diungkapkanNya sendiri ketika Yesus ditemukan kedua orangtuaNya di Yerusalem? Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Siapakah dia, tidak ada keterangan sedikitpun. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: 'hai ibu, penyakitmu telah sembuh'. Yesus menyatakan belaskasihNya kepada setiap orang.  Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.   Apa isi pujian perempuan itu tidak diceritakan. Dia pasti bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini.

Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tidak tahukah Guru satu ini akan peraturan hukum Sabat, pikir kepala rumah ibadat itu. Lalu ia berkata kepada orang banyak: 'ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat'. Sebuah sindiran kepada Yesus ucapannya itu. Mengapa dia tidak berani menegur langsung kepada Yesus? Atau kepada ibu yang sakit itu? Apakah berusaha mendapatkan kesembuhan adalah sebuah pekerjaan? Kepala rumah ibadat gelisah karena ada karya pelayanan sosial di hari Sabat, yang dikhususkan untuk Tuhan itu.

'Hai orang-orang munafik', sahut Yesus kepada semua orang yang hadir di situ. Kegelisahan kepada rumah ibadat itu malah menjadi kesempatan dan peluang bagi Yesus untuk mengajarkan sesuatu. 'Bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?'. Teguran Yesus yang membuka mata hati banyak orang. Yesus mengingatkan apa yang mereka kerjakan juga setiap hari, bahkan di hari Sabat.  'Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?'. Sekalian teguran yang amat menampar mereka semua. Apakah memang mereka ini tidak sadar dengan segala kegiatan yang dilakukan pada hari Sabat? Rutinitas memang membuat banyak orang tidak mampu melihat lagi makna dari sebuah sikap dan tindakan. Apakah malah mereka lebih mengutamakan hewan peliharaan dibanding sesama manusia, seperti yang sekarang ini sering dilakukan oleh mereka yang mapan hidupnya: perhatian terhadap hewan peliharaan lebih utama daripada kepada keluarga dan sesama manusia.

Waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya. Apakah Yesus sengaja mempermalukan mereka? Tentunya tidak. Yesus malahan mengungkap kemunafikan hidup yang harus ditinggalkan. Kiranya kira harus berani memberi perhatian utama kepada siapa? Kita harus proporsional dalam tindakan. Paulus hanya mengingatkan kita, agar kita berani menaruh perhatian kepada sesama. Bukankah kita ini anak-anak Allah, Karena Roh Allah sendiri yang membimbing dan menuntun kita, sebagaimana tersurat dalam Roma 8: 12-17. Menomerduakan yang lain, bukanlah mengabaikan, melainkan kita harus berani menaruh perhatian utama kita.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kamipun sering lalai dalam bersikap terhadap sesama, merasa telah melakukan yang terbaik untukMu, sesungguhnya lebih untuk diri kami sendiri. Ampunilah kami ya Yesus, dan ajarilah kami agar semakin berani dalam mengutamakan kasih di atas hukum dan aturan. Amin


Contemplatio

'Yesus meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening