Jumat Pekan Biasa XXXI, 10 November 2017

Rm 15: 14-21 + Mzm 98 + Luk 16: 1-8

 

 Lectio

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

 

 

Meditatio

Dalam pengajaran Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara". Mengapa Yesus berkata seperti itu kepada murid-muridNya? Apakah di situ juga ada pengikut-pengikut Yesus yang lain, orang-orang Farisi juga? Dalam arti luas semua orang memang adalah para muridNya, tetapi tak dapat disangkal orang-orang yang mengamini sabdaNya saja adalah yang pantas disebut para muridNya. Bukankah kemarin Yesus mengingatkan bahwa para muridNya adalah mereka yang mau memanggil salib kehidupan dan mengikuti sang Guru?

Adalah kebiasaan di tanah Palestina jaman itu, bahwa orang-orang kaya tidak bekerja sendiri, mereka mempekerjakan hamba-hamba untuk mengurus usahanya.   Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Disampaikan tuduhan; apakah benar bendahara tersebut curang ataukah hanya karena ada yang irihati dan berusaha menjatuhkannya, kita tidak membahasnya.

Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Tentunya si orang kaya tersebut telah mempunyai bukti atas kecurangan bendahara tersebut, sehingga memutuskan dia tidak boleh bekerja lagi. Dan meminta si bendahara untuk menyiapkan laporan inventaris atas harta yang diurusnya selama ini.

Maka kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Karena akan dipecat maka bendahara ini merenung dan timbullah niat cerdiknya untuk menyelamatkan dirinya, supaya dirinya tidak terlantar ketika sudah tidak bekerja lagi. Aku harus tetap hidup. Aku harus tetap bisa makan dan minum. lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Bendahara ini bertindak sangat cepat, rupanya tuannya itu orang yang berbelaskasih, tidak langsung memberhentikannya. Tetapi masih memberi waktu baginya untuk mempersiapkan laporan inventaris atas hartanya. Dan kesempatan ini dipakai dengan sebaik-baiknya oleh di bendahara dengan memanggil orang yang berhutang pada tuannya itu untuk merubah jumlah utang mereka sebelum mereka yang berutang tahu, bahwa dia sudah tidak lagi berhak atas tugas-tugas tersebut.

Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Mengapa si orang kaya bukannya marah, tetapi justru memujinya sebagai orang yang cerdik? Seharusnya si orang kaya dapat langsung memanggil orang yang berutang dan menetapkan, bahwa jumlah itu tidak sah karena bendahara tersebut sudah dipecat. Tetapi sikap ini akan membuat yang berutang tidak senang juga si bendahara. Dengan membiarkan perbuatan bendahara yang merubah daftar utang, dia telah membuat bendahara senang dan juga orang yang berutang kepadanya dan dia akan dipandang sebagai orang yang penuh pengertian. Perjuangan untuk tetap hidup inilah yang dibanggakan. Perjuangan untuk hidup inilah yang seharusnya menjadi patrun bagaimana saya harus selamat dan masuk Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus melanjutkan: 'Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'. Dari ayat terakhir ini jelaslah apa yang Yesus ingin sampaikan, bahwa dalam berelasi dengan Allah hanya sedikit anak terang yang cerdik seperti anak-anak dunia. Apakah ini kritik tajam Yesus pada kaum Farisi? Yang hidupnya saleh tetapi tidak menyadari kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Yesus. Mereka mempelajari hukum Taurat dan sangat menguasainya, tetapi mereka menolak Yesus.

Paulus dalam pengalamannya dengan Yesus menulis kepada jemaat di Roma, bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain,tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya." (Roma 15). Penyataan Paulus juga mengingatkan kita agar kita berani berjuang dan berjuang. Apapun kelemahan dan dosa kita bahkan, tidak akan menjadi perhitungan Tuhan, kalau kita mau berusaha dan berusaha, bertobat dan bertobat. Kemauan dan usaha mendekatkan diri kepada Tuhan amat menyenangkan hati Tuhan Allah.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantu kami agar mampu menjadi anak-anakMu yang mampu memahami kehendakMu, dengan daya kemampuan kami mampu menghadirkan Engkau dalam tindakan kami, sehingga semakin banyak orang merasakan kasihMu. Amin

 

Contemplatio

'Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang'.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening