Senin Pekan Biasa XXXIII, 20 November 2017


Mak 1: 10-15 + Mzm 119 + Luk 18: 35-43

 

 

Lectio

Suatu hari waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?"  Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

 

 

Meditatio

Suatu hari waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Siapakah orang buta itu, sepertinya tak penting nama untuk disebutkan. Namun mengapa diceritakan? Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: 'apa itu?'. Dia tidak bisa melihat, tetapi dia hanya ingin mendengar dan mendengar, karena itulah kemampuan yang dibanggakan. Apa yang dimiliki itulah yang dinikmatinya.

'Yesus orang Nazaret lewat'. Sebuah nama indah yang sepertinya pernah didengarnya. Sebuah nama yang dimiliki Seseorang yang benar-benar mempunyai hati terhadap sesama. Sebuah nama yang benar-benar sesuai dengan maknanya. 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!'. Itulah kata-kata yang terungkap dari seorang yang tak dapat melihat itu. Dia tidak bisa melihat, tetapi dia benar-benar mengenal Dia yang penuh belaskasih. Dia yang adalah Anak Raja semesta alam sungguh-sungguh ada di tengah umatNya.

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Inilah komentar orang-orang yang melihat dan bisa berjalan dengan sigapnya. Mereka bukannya menolong dia yang terhalang fisiknya, malahan menutup dan mengabaikannya, karena mereka tidak mau direpotkannya. Namun semakin keras ia berseru: 'Anak Daud, kasihanilah aku!'. Apa hak kalian menghalang-halangi aku? Aku membutuhkan Dia, karena memang Dialah penyelamatku. Aku akan terus berseru dan berseru.

Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Mengapa Yesus baru sekarang memperhatikan orang buta itu? Mengapa tidak semula Yesus sudah mengabulkan permohonannya? Bukankah Engkau berjanji tidak mengulur-ulur waktu untuk menolong umatMu, sebagaimana Engkau sampai kepada kami di hari Jumat kali lalu? Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: 'apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?'. Mengapa Yesus masih bertanya-tanya seperti itu? Mengapa Yesus selalu memperlambat diri?

'Tuhan, supaya aku dapat melihat!', seru orang buta itu. Mengapa dia langsung mengecilkan belaskasih Allah hanya mukjizat penyembuhan? Apakah karena penglihatan inilah yang diinginkannya? Apakah belaskasih Tuhan itu sebatas  segala yang menjadi kebutuhan kita? Lalu kata Yesus kepadanya: 'melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!'. Yesus memberikan penglihatan, memberikan mukjizatNya, tetapi iman dia yang menyelamatkan. Mengapa? Karena memang iman berarti penyerahan diri kepada Allah; sebuah kepercayaan diri, bahwa hanya dalam Allah ada keselamatan. Keselamatan telah dilimpahkan dan iman adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan dan menikmatinya. Pengalaman iman inilah yang penting, dan bukanlah nama seseorang dalam menikmati keselamatan. Apalah arti nama, kesehatan fisik dan jabatan  bila memang seseorang tidak percaya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Iman menyelamatkan.

Sekedar menjadi referensi bagi kita dalam menghadapi kesulitan dan derita kehidupan. Iman yang sejati membuat orang bertahan dalam aneka tatanan kehidupan; dan itulah yang dicontohkan Israel dalam berkanjang dengan iman yang dimilikinya. 'Ada banyak orang Israel yang menetapkan hatinya dan memasang tekad untuk tidak makan apa yang haram. Lebih sukalah mereka mati dari pada menodai dirinya dengan makanan semacam itu dan begitu mencemarkan perjanjian kudus' (Mak 1: 62-63). Mereka tetap membiarkan cawan tidak berlalu dalam peristiwa konkrit kehidupannya.

Ketika Yesus menyatakan iman yang menyelamatkan, seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. Kesempatan melihat yang indah dan membahagiakan seharusnya memang membuat orang untuk memuji Tuhan (Kebj 13), karena memang Dialah sang Pencipta segala yang indah.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau tahu segala yang menjadi kebutuhan kami dan tidak pernah terlambat pertolonganMu. Tetapi seringkali kami berputus asa ketika tak kunjung datang campur tanganMu. Maka teguhkanlah iman kami dalam berharap kepadaMu dengan tak jemu-jemu memohon dan memohon kepadaMu. Amin

 

Contemplatio

'Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening