Senin Pekan Biasa XXXIV, 27 November 2017

Dan 1: 1-20 + Mzm  + Luk 21: 1-4

 

 

Lectio

Suatu hari ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

 

 

Meditatio

Suatu hari ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Yesus tiba-tiba mengangkat muka. Apakah sebelumnya Yesus tunduk saja, sehingga tidak melihat dan bahkan tidak tahu segala yang terjadi di sekitarNya? Sepertinya semuanya itu sebuah ungkapan adanya sesuatu yang menarik dan harus diceritakan kepada orng lain. Inilah Lukas.  Yesus pun dengan teliti mengamati sejumlah uang yang dimasukkan perempuan janda itu. Mengapa Lukas tidak menceritakan sejumlah uang yang dimasukkan oleh orang-orang kaya sebagai bahan pembanding?

'Aku berkata kepadamu', kata Yesus yang hendak menegaskan penyataanNya ini:  'sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu'. Janda miskin lebih banyak memberi dibanding dengan orang-orang kaya yang pada waktu itu juga memasukkan dana ke kotak persembahan. Mengapa? 'Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya'. Orang-orang kaya itu akan memberi sama nilainya dengan perempuan miskin itu seandainya mereka memberi seluruh nafkah hidup atau seluruh harya kekayaan yang dimilikinya, dan tidak menyisahkannya. Sebab memang harta yang dimiliki oleh orang-orang kaya itu masih banyak menumpuk di rumah, tetapi tidaklah demikian dengan perempuan janda itu. Mereka memberi tetapi masih memiliki simpanan harta di rumah. Namun tidaklah demikian dengan janda miskin: dia memberi, dan habislah segala yang dimilikinya.

Namun kiranya lebih dari itu, perempuan janda ini lebih bisa dimengerti karena dia memberikan segala yang dimilikinya sebagai ungkapan pemberiannya dengan segenap hati dan setulus jiwa. Dia mammu memberi dan memberi, karena dia masih mau berpikir panjang bahwa ternyata adanya banyak orang yang lebih miskin daripada dirinya, yang tidak mampu memberi seperti dirinya. Dia telah menerima, maka dia berani memberi. Secara kasad mata dia hanya mempunyai sedikit, tetapi hatinya berkelimpahan atas karunia yang diterimanya dari Tuhan. Perempuan janda ini begitu merasakan banyak menerima dari Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini.

Kalau berani berkata-kata tentang segala yang menajiskan sebagaimana pernah dikatakan Yesus bahwa yang menajiskan itu bukan yang masuk, melainkan yang keluar dari kita manusia, maka perempuan janda ini benar-benar menguduskan dirinya dengan berani memberi tanpa mengikatkan diri pada harta benda yang dimilikinya. Apalah arti semuanya itu, kalau dirinya terikat oleh harta yang dimilikinya. Demikian juga Daniel sebagaimana diceritakan dalam kitabnya bab 1: 1-20, bahwa yang menguduskan dirinya bukanlah segala yang masuk ke dalam dirinya, melainkan yang keluar dalam dirinya. Itulah yang membuat dia berkenan kepada banyak orang, dan tentunya kepada Tuhan Allah sendiri.

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami agar dengan berani kami memberi dan memberi sebagaimana yang Engkau tunjukkan dalam diri perempuan janda miskin itu. Dia memberi dari kekurangannya, karena memang dia tetap kaya dalam anugerah yang telah Engkau berikan kepadanya, dan dia merasakannya sungguh.

Yesus bantulah kami selalu. Amin.

 

Contemplatio

'Mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya'.

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening