Minggu Pekan Adven IV, 24 Desember 2017

1Sam 7: 1-5 + Rom 16: 25-27 + Luk  1: 26-38

 

 

Lectio

Pada waktu itu dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

 

Meditatio

'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'. Kata-kata Maria inilah yang akhirnya memberi kepastian kepada siapakah Yesus akan tinggal dalam rahim seorang perempuan. Allah akan menguduskan hati dan budi seseorang agar layak dan pantas menjadi sang ibu. Allah pasti tidak akan membiarkan AnakNya yang tunggal lahir dalam diri perempuan yang tidak layak untuk kehadiranNya. Allah pasti mempersiapkan Maria, walau Maria tetap diberi kebebasan untuk menjawab kehendak Allah dalam dirinya. Maria mempunyai kehendak bebas sama seperti yang kita miliki bersama.

Mungkinkah Tuhan Yesus lahir dalam kandungan seorang berdosa? Mungkinkah Yesus lahir, bukan dalam diri Maria? Bukankah Yesus dalam pelayananNya secara sengaja mendatangi kaum pendosa dan para pemungut cukai? Mungkinkah Yesus yang kecil dan tak berdaya itu dihidupi dan dilindungi oleh perempuan berdosa? Mungkinkah kehidupan Yesus bergantung pada diri seorang berdosa? Tuhan Allah memang selalu menyapa dan menyapa setiap orang tanpa terkecuali, bahkan mereka yang tenggelam dalam dosa. Mereka diajakNya untuk berobat dan kembali kepada keselamatan. Namun sepertinya Yesus tidak akan pernah dikuasai oleh dosa, bahkan ketika banyak orang hendak 'melemparkan Dia dari tebing, Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi' (Luk 4: 29-30). Yesus tidak mau dikuasai kemauan orang-orang yang mencari kepuasan diri. Yesus tidak mau mati binasa.

Kesiapsiagaan Maria mengamini apa yang disabdakan dan dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang Anak-laki-laki dan ia akan menamai Dia Imanuel (Yes 7: 14). Apakah Maria sudah membaca kitab nabi Yesaya bab 7 itu? Namun yang jelas, Maria mengamini kemauan Tuhan akan juga terjadi dalam diri setiap orang, sebab memang 'rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya' (Luk 1).

Perayaan Natal sebenarnya juga menantang kita untuk berani menjawab seperti Maria. Sebab bukankah Natal mengingatkan kita akan 'pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa' (Rom 16: 25-26). Dia yang kaya telah menjadi miskin agar kita menjadi kaya oleh kemiskinanNya. Kita diminta menanggapiNya. Tanpa jawaban seperti Maria, perayaan hanya sekedar perayaan di luar sana, dan kita hanya nimbrung tanpa berperan aktif di dalamnya. Kesediaan kita menjawab seperti Maria akan memungkinkan Yesus benar-benar hadir dalam diri kita, sebagaimana komunitas orang-orang yang percaya, dan bahkan Dia lahir dalam hati kita. Yesus menunggu kita agar kita menyiapkan palungan-hati yang layak bagi diriNya. Yesus tidak meminta rumah yang bagus sebagaimana akan didirikan Daud (2Sam 7). Kesederhanaan haruslah tetap menjadi kekhasan dari Natal Yesus yang kaya itu.

Kalau kita orang-orang yang percaya kepadaNya, pasti kita akan menyiapkan tempat indah bagiNya. Kita tidak ingin Dia yang kita sayangi itu lahir dalam ketidaknyamanan diri. Allah memang tidak mempersoalkan tempat bagi diriNya, tanpa batu untuk meletakkan kepalaNya pun Dia siap. Namun kita biarkankah kehadiranNya sebatas itu? Jika kita mencintai Tuhan Yesus kita akan berkata seperti Maria, agar Yesus lahir dalam hidup kita.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau datang untuk orang berdosa, bantulah kami agar dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan dalam mempersiapkan tempat yang layak untuk menerima kehadiranMu. Amin

 

Contemplatio

'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu'.

 









Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Kamis Pekan Biasa XXXIII, 23 November 2017