Pesta Keluarga Yusuf, 31 Desember 2017

Sir 3: 2-14 + Kol 3: 12-21 + Luk 2: 22.39-40

 

 

Lectio

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan itu, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

 

 

Meditatio

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. Mengapa mereka melakukan semuanya itu? Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil; terpujilah Dia (Ayb 1: 21). Kiranya ucapan Ayub ini juga menyemangati Maria dan Yusuf menyerahkan kembali kepada Tuhan Anugerah indah yang telah mereka terima. Bukankah Hanna dan Manoah juga melakukan hal yang serupa, berkaitan dengan Samuel, anak yang baru dilahirkan itu? Daripada Tuhan lebih dahulu memintanya, bukankah lebih baik kita memberikan kepadaNya, sebagai rasa ucapan syukur dan terima kasih kita kepadaNya?

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria, Yusuf, dan Yesus ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Yesus benar-benar menghayati hidup dalam keluarga. Menjalani ritual agama adalah perihal penting dalam mewujudkan iman kepercayaan kepada Tuhan. Sikap dan tindakan mistis memang sepertinya menomerduakan semuanya itu, tetapi keberadaan hidup tetap memerlukan tanda-tanda lahiriah yang memberi kepuasan pada afeksi insani. Bagaimana kita mengatakan mencintai Tuhan, kalau kita tidak mencintai sesama? tegas santo Yohanes (bdk. 1Yoh 2: 4).

Apakah Yesus sungguh-sungguh menghayati apa yang dikatakan oleh kitab Sirakh (Sir 3: 2-14), bahwasannya mereka yang 'menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya?'. Pasti! Yesus tentunya menampilkan diri sebagai Anak yang taat kepada kedua orangtuaNya. Bukankah ketaatan kepada Bapa di surga menjadi landasan dan spiritualitas hidupNya? Bukankah menjadi Manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya adalah kesengajaan Allah? Yesus pasti memberikan teladan yang baik bagi setiap orang.

Apakah Tuhan Yesus juga ada di tengah-tengah keluarga kita? Sebagai orang-orang yang dipilih dan dikasihi Tuhan tentunya kita memberi tempat yang nyaman bagi Yesus dalam keluarga kita. Natal benar-benar meminta kita untuk membiarkan Yesus tinggal dalam keluarga kita. Dan kalau benar-benar membiarkan Yesus ada dalam keluarga kita pasti, seperti dikatakan Paulus kepada umat di Kolose,  isteri-isteri akan tunduk kepada suami, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan; dan suami-suami akan mengasihi isteri dan tidak berlaku kasar terhadapnya. Demikian anak-anak akan mentaati orang tua dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan; dan orangtua tidak akan menyakiti hati anak, supaya jangan tawar hatinya (Kol 3: 18-21).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, gaung Natal dengan damai dan sukacita kiranya senantiasa hadir dan menyertai setiap keluarga yang merayakan kehadiranMu, dan membagikannya pada orang-orang di sekitarnya, sehingga tercipta kedamaian di seluruh muka bumi. Khususnya di negara kami tercinta ini. Amin

 

 

Contemplatio

'Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya'.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Kamis Pekan Biasa XXXIII, 23 November 2017