Minggu Pekan Biasa II, 14 Januari 2018

1Sam 3: 3-10 + 1Kor 6: 13-20 + Yoh 1: 35-42

 

 

Lectio

Suatu hari Yohanes berdiri di tempat membaptis dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"  Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"  Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.  Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."

 

Meditatio

Suatu hari Yohanes berdiri di tempat membaptis dengan dua orang muridnya.  Ada sesuatu hal yang harus mereka kerjakan, sehingga mereka bertiga berdiri di situ. Atau memang mereka menunggu orang yang hendak meminta baptisan? Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: 'lihatlah Anak domba Allah!'. Yohanes mengenal baik siapakah Yesus yang lewat di hadapan mereka. Yohanes sadar, bahwa dirinya adalah seorang nabi yang harus mendahului Tuhan, dan menyiapkan jalanNya. Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Yohanes membiarkan kedua muridNya itu mengikuti Anak Domba Allah. Yohanes tidak merasa kehilangan atau ditinggalkan oleh kedua muridNya. Yohanes sadar sungguh akan tugas perutusan yang diembannya.

Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: 'apakah yang kamu cari?'. Yesus sepertinya tahu benar apa yang mereka lakukan.  'Guru, di manakah Engkau tinggal?'. Pertanyaan inilah yang sepertinya dinantikan Yesus. Yesus menantikan pertanyaan itu, bukannya Dia tidak mengenal isi hati kedua orang itu, melainkan Yesus meminta agar setiap orang berkata-kata sesuai dengan isi hatinya. 'Marilah dan kamu akan melihatnya', kata Yesus.

Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Di mana dan bagaimana tempat Yesus tinggal tidak diceritakan. Bukankah tidak ada tempat istimewa bagiNya untuk meletakkan kepalaNya? Namun tak dapat disangkal, mereka berdua sempat tinggal bersama Yesus.

Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: 'kami telah menemukan Mesias, artinya: Kristus'. Darimana dan mulai kapan Andreas tahu dan mengenal, bahwa Yesus adalah Mesias? Bukankah Yesus namaNya? Bukankah Yohanes menunjukkan, bahwa Dia yang lewat itu adalah anak Domba Allah? Tinggal bersama Yesus membuat seseorang mengenal Siapakah Anak Domba Allah itu. Tinggal bersama Yesus membuat kita juga akan semakin mengenal Kristus, bahkan mampu membawa orang lain kepada Yesus. Orang mengenal Yesus memang akan berani mengajak orang lain datang kepadaNya. Orang yang tak mempunyai, tak mampu memberi sesuatu kepada orang lain. Nemo dat quod non habet.

Kiranya juga menjadi referensi kita, yakni pengalaman Samuel ketika dia mendapatkan panggilan dari Tuhan. Samuel tidak mengerti, bahwa Tuhan yang memanggil dn memanggilnya. Eli yang sudah berpengalaman dalam mengenal Allah akhirnya menguatkan Sameul dengan berkata: 'pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar' (1Sam 3: 9). Pengenalan akan Tuhan benar-benar mampu menghantar orang lain, sesama kita untuk mengenal Allah dan menikmati keselamatan daripadaNya. Pengenalan kita akan Allah juga otomatis menjadi saluran berkat bagi sesama.

Yesus memandang Simon dan berkata: 'engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas, artinya: Petrus'. Yesus memang mengenal hati dan budi setiap orang. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan wajahNya yang kudus dan mulia itu. Yesus mengenal setiap orang, karena Dialah sang Empunya kehidupan ini. Kita ini hidup atau mati milik Kristus (Rom 14). Sebaliknya kalua kita mengenal sesama kita hanya melihat yang tampak dan lahiriah, ataupun perilakunya. Maka baiklah kalau kita selalu menguduskan jiwa raga kita ini, agar setiap orang dapat memandang kita dengan tepat dan benar. Kita harus berani menjaga dirinya kita masing-masing, sebab bukankah kita ini, tubuh kita ini adalah bait Allah yang kudus, dan bahwa diri kita ini bukan milik kita sendiri? (1Kor 6: 19). Kita pertanggungjawabkan hidup kita, agar setiap orang dapat memandang diri kita dengan tepat dan benar.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami sering berdalih ketika diminta dalam melakukan suatu tugas. Begitu banyak alasan yang dikemukakan untuk menghindar dari tugas tersebut. Ajarilah kami ya Yesus, agar memahami sabdaMu dan taat dalam melaksanakannya. Amin

 

Contemplatio

'Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus'.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis