Rabu Pekan Biasa III, 24 Januari 2018

2Sam 7: 4-17 + Mzm 89 + Mrk 4: 1-20

 

 

Lectio

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

Meditatio

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sebab memang 'gemaNya terpencar ke seluruh dunia, dan perkataanNya sampai ke ujung bumi' (Mzm 19: 5),  dan Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.

Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 'dengarlah! Ada seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat'.

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'.  Yesus mengingatkan dan meminta setiap orang untuk berani mendengarkan apa yang diajarkanNya. Sebab dengan mendengarkan, seseorang akan merasakan kehadiranNya. Sang sabda hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mau mendengarkan.

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Kenapa baru saat Dia sendiri, para murid menanyakan kepadaNya? Mengapa mereka tidak langsung menanyakan ketika perumpamaan itu disampaikan? Jawab-Nya: 'kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun'. Mengapa Yesus Tuhan membedakan mereka? Apakah semuanya ini berkaitan dengan perlawanan mereka yang meniadakan Allah? Yang berdosa melawan Roh Kudus? Namun mengapa juga kalau begitu sabda tetap disampaikan kepada mereka? Sulit kita pahami memang kehendak Tuhan kepada kita umatNya. Daud sendiri berkeinginan membangun rumah untuk Tuhan, tetapi Tuhan Allah melalui nabi Natan menolaknya, malahan 'apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku' (2Sam 7: 12-14).  Daud yang berjasa, tetapi Anaknyalah yang diijinkan mendirikan rumah bagiNya

Lalu Ia berkata kepada mereka: 'tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?'. Hal yang amat sederhana pun para murid tidak juga mengerti. SDM orang-orang yang dipilih Yesus bukanlah berkualitas tinggi, karena perumpamaan berkenaan dengan keseharian hidup mereka, tidak juga dimengertinya. 'Penabur itu menaburkan firman'. Penabur itu adalah Allah sendiri, yang memang tak jarang menghadirkan diri dalam diri orang-orang yang dipercayaiNya. Mereka mewartakan dan mewartakan sabda dan kehendak Tuhan, sebagaimana tersurat dalam kitab suci. 'Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka'. Sabda yang disampaikan tidak sedikitpun  menempel dalam hati mereka.  'Yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad'. Sabda sebatas menjadi pengetahuan, dan belum menjadi bekal kehidupan. 'Yang ditaburkan di tengah semak duri, mereka itu yang mendengar firman, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuk menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'. Kepentingan insani dan duniawi lebih menarik perhatian dan lebih menjanjikan daripada sabda Allah. Sedangkan, 'yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat'. Orang itu, bukan saja pendengar sabda, tetapi juga pelaksana sabda, dan berkat sabda itu dia mampu memindahkan gunung ke tengah samudera.

Adanya orang-orang yang berbeda satu dengan lainnya dalam mendengarkan sabdaNya berarti semenjak semula Tuhan Allah menerima adanya keberagaman dalam menghayati kehendakNya. Tuhan Allah tidak memaksa umatNya, tetapi setiap orang tetap diajak untuk berani dengan kerelaan jiwa merasakan dan menikmati taburan sabdaNya. Hanya dalam sabdaNya setiap orang beroleh keselamatan.

 

 Oratio

Ya Yesus Kristus, jadikan hati kami tanah yang subur dalam menerima sabdaMu, sehingga sabdaMu dapat bertumbuh dan menjadi bekal yang mendatangkan keselamatan dalam hidup kami.

Santo Fransiskus Sales, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

'Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!'.

 

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010