Sabtu Pekan Biasa III, 27 Januari 2018

2Sam 12: 1-17 + Mzm 51 + Mrk 4: 35-41

 

 

Lectio

Pada suatu kali, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

 

Meditatio

Pada suatu kali, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: 'marilah kita bertolak ke seberang'. Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Mengapa Yesus mengajak mereka bertolak ke seberang? Daerah mana yang dimaksudkan? Apakah mereka hendak beristirahat, karena memang banyak orang yang datang sehingga makan pun Yesus bersama para murid tidak sempat? Perahu-perahu lain juga mengikuti; perahu-perahu siapakah itu?

Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Menarik juga. Dalam keadaan seperti itu Yesus tertidur dengan pulas. Sungguh capekkah Dia sehingga tidak terasakan semuanya itu? Yesus sungguh-sungguh manusia seperti kita. Dia bukan dijadikan, tetapi dilahirkan. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: 'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'. Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: 'diam! Tenanglah!'. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Kiranya tindakan para murid itu sungguh tepat dan benar. Sulit bagi mereka mengerti mengapa seorang Guru berdiam diri terhadap peristiwa semacam itu. Syukurlah mereka masih ingat, bahwa ada sang Guru di tengah-tengah mereka. Kiranya ingatan akan Tuhan dan akan segala yang baik tetap berkanjang dalam hidup setiap orang, dan bukannya seperti Daud yang begitu keras terhadap orang lain, tetapi tidak terhadap dirinya sendiri. Daud lupa daratan karena kuasa dan kenyamanan hidup yang dinikmatinya (lih 2Sam 12).

Yesus bangun dan menghardik angin ribut. Sungguh, angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Hebat dan penuh kuasa sang Guru satu ini. Lalu Ia berkata kepada mereka: 'mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'. Apa artinya percaya kepada Yesus? Apakah cukup dengan membiarkan diri mengikuti arus gelora badai? Ketidakpercayaan para murid adalah semua bisa tenggelam karena badai yang begitu dasyat itu. Namun apakah bersama Yesus, kita binasa?

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: 'siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?'. Yang berkuasa atas alam semesta tentunya sang Pencipta itu sendiri.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur atas segala pendampinganMu, bersama Engkau kami percaya, kesulitan sebesar apapun pasti dapat dilalui, karena hanya Engkaulah sang empunya kehidupan, Engkau berkuasa atas segala-galanya. Maka biarlah melalui sikap dan tindakan kami, semakin dapat membawa orang lain datang kepadaMu. Amin

 

Contemplatio

'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'.










Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis