Selasa Pekan Biasa IV, 30 Januari 2018


2Sam 18-19 + Mzm 86 + Mrk 5: 21-43

 

 

Lectio

Suatu hari sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

 Ada di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

Meditatio

Suatu hari sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Pengajaran yang menarik hati dan penuh kuasa itulah yang mengundang banyak orang datang kepada Yesus dan mendengarkan Dia. Mereka sepertinya tidak mau tahu dengan jarak yang harus dijalani. Mereka datang hendak mendengarkan sang Sabda. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Kemungkinan orang Saduki dia ini. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: 'anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup'. Dia meminta Yesus datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sedang sakit keras. Dia tidak meminta seperti perwira Romawi yang cukup hanya mengatakan sepatah kata saja. Yairus ingin Yesus menumpangkan tanganNya. Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Sebagian besar orang yang mendengarkan Dia ikut serta pergi ke rumah Yairus. Kita dapat membayangkan betapa ramainya perjalanan mereka, dan itu tentunya tidak bisa berjalan dengan cepat.

 Ada di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Apakah dia selama ini tidak pernah melambungkan doa-doa permohonan? Apakah memang Tuhan membiarkan dia selama duabelas tahun ini? Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya, sebab katanya: 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Dia berani menjamah jubah Yesus, karena memang ada kepercayaan dirinya kepada sang Guru. Dia mau menggunakan kesempatan dan peluang untuk menjumpaiNya. Dia seperti tidak mampu datang ke tempat ketika didengarnya Yesus sedang mengajar; apalagi dia seorang perempuan dan sakit lagi. Beban psikologis juga menambah parah sakit yang dideritanya. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Iman mendatangkan rahmat dan berkat, dan itulah yang sekarang dirasakannya. Aku sembuh.

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: 'siapa yang menjamah jubah-Ku'. Mengapa Yesus bertanya seperti itu? Apakah Yesus tidak merasakan yang terjadi dalam diriNya? Masakan seorang Yesus tidak tahu apakah yang terjadi pada diriNya? Atau memang Yesus hanya ingin memancing apa yang terjadi pada diri umatNya?  Murid-murid-Nya menjawab: 'Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: siapa yang menjamah Aku?'. Sebuah jawaban yang amat logis. Mengapa tidak ada seorang muridpun yang menyangka masakah Engkau tidak tahu, Guru? Angin rubut dan badai Engkau hentikan, kuasa kegelapan Engkau perintahkan dan mereka taat kepadaMU, masakah Engkau tidak tahu apa yang terjadi padaMu dan siapa yang menjamah Engkau? Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Takut dan tak tahu apa yang harus dilakukannya, perempuan itu merunduk juga di hadapan Yesus. Apakah tindakan penyerobotan diri itu sebuah kesalahan? Mungkinkah dia berteriak-terikk sebagaimana dilakukan Bartimeus, orang buta itu? Kiranya posisis diri sebagai seorang perempuan yang kiranya mempersulit dirinya untuk melakukan sesuatu secara procedural.

'Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!', tegas Yesus kepada perempuan itu. Yesus malah memuji bahagia perempuan satu ini, karena dia benar-benar mengungkapkan iman kepercayaannya akan Tuhan yang mampu memberikan segala kebaikan. Dia tidak hanya mendapatkan kesembuhan, melainkan juga keselamatan. Iman selalu mendatangkan segala yang baik, bahkan yang tidak terselesaikan oleh kemampuan manusia.

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: 'anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?'. Sebuah pernyataan yang amat wajar, karena memang bukankah mereka semua mencari Yesus untuk meminta kesembuhan daripadaNya. Kini dia telah mati. Kematian adalah akhir segala-galanya. Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: 'jangan takut, percaya saja!'. Kepercayaan akan menjadikan segala-galanya bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan juga bagi setiap orang yang percaya. Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mengapa? Mungkin hanya alasan praktis saja, supaya mereka dapat segera sampai di rumah Yairus. Mengapa para murid lain tidak diajak? Apakah mereka diminta tetap melanjutkan pengajaranNya? Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: 'mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!'. Bukankah dihadapanNya semua hidup? Tetapi mereka menertawakan Dia. Apa yang dilihat manusia memang berbeda yang dilihat Allah. Penglihatan kita manusia memang amat insani dan inderawi. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: 'talita kum', hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!'.  Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Mujizat itu ada. Dia menjadikan segalanya baik adanya. Di hadapanNya semua hidup. Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, akan hidup. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, berilah kami keberanian seperti wanita pendarahan yang berani menghadapi rintangan untuk mendatangi Engkau, sebab hanya di dalam Engkau ada keselamatan. Terima kasih ya Yesus, kami percaya Engkau tidak pernah membiarkan setiap orang yang datang dan bermohon kepadaMu. Amin

 

Contemplatio

'Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'.

 

 






Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010