Minggu Prapaskah II, 25 Februari 2018

Kej 22: 10-18 + Rom 8: 31-34 + Mrk 9: 2-10

 

 

Lectio

Pada suatu kali, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

 

Meditatio

Pada suatu kali, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Mengapa Yesus seringkali mengajari ketiga murid ini? Apakah mereka ini orang-orang yang paling dikasihi? Apakah Yesus mempunyai anak emas  dalam karya pelayananNya? Atau kebetulan saja, karena murid-murid yang lain sedang pergi ke tempat lain? Bukit apa yang dimaksudkan ini? Di situ mereka sendirian saja. Apa yang mereka lakukan, dan kenapa mereka naik ke bukit? Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Sebuah ungkapan Markus yang menggambarkan, bahwa Yesus menampakkan kemuliaan surgawi yang bersinar dan berkilau-kilauan. Apalagi  Nampak juga kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Dua tokoh besar dalam sejarah perjalanan bangsa Israel. Entah apa yang mereka perbincangkan, apakah mereka berbicara serius atau sekedar berbincang-bincang santai saja? Semuanya menunjukkan kemuliaan surgawi. Yesus begitu akrab dengan para nabiNya yang kudus.

Kata Petrus kepada Yesus: 'Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'.  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Apakah maksud Markus menuliskan, bahwa Petrus berkata-kata seperti karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan? Apakah malah tidak dimaksudkan, bahwa mereka hendak berlama-lamaan dengan Yesus, karena situasi surgawi semacam itu? Mereka merasa kaget, takut dan kagum akan semuanya itu, tetapi mengingat menyenangkan hati, maka mereka ingin berlama-lama dalam situasi ini. Kita sendiri dapat membayangkan betapa bahagia dan menyenangkan kalau kita menikmati hal seperti itu.

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: 'inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'. Suara siapakah itu? Tentunya suara Dia sang Empunya kehidupan, sebab bukankah Dia Bapa di surga yang mengutusNya? Bukankah memang Dia datang hanya untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Suara dari dalam awam itu sepertinya menjadi jawaban dari keinginan Petrus untuk mendirikan tiga kemah. Keindahan bersama dengan Yesus yang menampakkan kemuliaan benar-benar akan terjadi kalau mereka berani mendengarkan Yesus, Anak yang dikasihiNya itu. Mereka diminta mendengarkan Yesus, karena pada waktu itu berkumandang, mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Memang bukan orang lain yang dikatakan, melainkan tentang Dia yang berdiri di depan para muridNya. Dialah ini yang  harus didengarkan.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan 'bangkit dari antara orang mati'. Mereka bertanya dan bertanya dalam benak mereka, karena tidak mengerti akan apa yang terjadi pada sang Guru, mereka belum mengerti sungguh siapakah Dia yang mengajak mereka itu.

'Dengarkanlah Dia' adalah sebuah permintaan yang harus ditaati bagi setiap orang yang ingin menikmati kemuliaan surgawi Tuhan Yesus. Mendengarkan Dia berarti mengutamakan kemauan dan kehendak Dia, dan bukan kemauan diri, bahkan kita harus melawan kemauan jiwa dan hati kita. Kita sepertinya harus melakukan segala sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak layak secara insani. Itulah yang dilakukan oleh Abraham yang mengamini kemauan Tuhan yang berkata: 'ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu' (Kej 22: 1). Kemauan Tuhan seringkali bertabrakan dengan kemauan kita. JalanKu bukanlah jalanmu, dan pikiranKu bukanlah pikiranmu.

'Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?' (Rm 8: 32). Pernyataan Paulus benar-benar mengingatkan kita juga, bahwa kemauan Tuhan seringkali berlawanan dengan pikiran dan konsep kita. Mengapa Dia mengirimkan AnakNya sendiri? Sulit dimengerti. Kalau dia saja mengirimkan AnakNya kepada kita, maka tentunya pasti Dia akan mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kamipun sering ingin berlama-lama menikmati sesuatu yang indah sesuai dengan kehendak kami. Melalui sabdaMu hari ini kembali kami diingatkan, bahwa sesuatu yang indah dan kekal hanya berasal dariMu. Dan kami dapat menikmatinya dengan mendengarkan dan melakukan kehendakMu. Terima kasih ya Yesus. Amin

 

 

 Contemplatio

'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'.

 

 









Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Prapaskah I, 19 Februari 2018

Selasa XXX, 26 Oktober 2010