Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah, 2 Februari 2018

Mal 3: 1-4 + Mzm 24  + Luk 2: 22-40

 

 

Lectio

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.

Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 

 

Meditatio:

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: 'semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah', dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Pentahiran diri adalah khusus buat Maria tentunya, yang baru saja melahirkan seorang Anak. Imamat 12: 6-8 memang mencantumkan tata cara pentahiran perempuan yang baru melahirkan, yang sekaligus pelaksanaan pengudusan bayi yang baru dilahirkan. Anak sulung diutamakan mengingat dunia patriakhal yang  ada sampai sekarang ini.

Haruskah Maria dan Yesus dipersembahkan di bait Allah? Sebagai anggota umat Allah yang hidup perziarahan anak-anak manusia memang mereka patut memenuhi segala aturan yang ditentukan dalam hukum Taurat? Bukankah malah orang-orang yang beriman selalu mentaati aturan hukumNya yang kudus? Bukankah Dia memang menjadi manusia dan mau turut mengikuti aliran kehidupan yang ada di tengah-tengah umatNya? Itulah kiranya pemahaman kita.

Ada di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Simeon ini pasti orang suci. Apakah kita bisa mensejajarkan para kudus yang satu dengan lainnya? Kiranya mereka itu adalah anggota komunitas kudus di mana Allah sendiri yang meraja di tengah-tengah mereka. Apakah usia panjang juga menjadi berkat bagi Simeon untuk menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadanya?

Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah. Hatinya berkata-kata tentang Anak kudus ini. Anak kudus inilah yang sebenarnya menyambut Simeon sehingga dia berkata-kata: 'sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel'. Karunia Roh Kudus yang diterima Simeon benar-benar dinikmatinya. Dia tahu benar siapakah Anak yang dibopongnya itu. Simeon memberikan kesaksian siapakah Anak yang dibopongnya itu. Dialah Mesias. Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Anak kudus ini menjadi sukacita istimewa bagi Israel, karena memang keselamatan datang berasal dari bangsa Yahudi (Yoh 4). Merekalah bangsa yang terpilih, umat Allah yang kudus. Namun Anak Manusia ini tetap terarah kepada seluruh umat manusia, karena memang Allah menghendaki semua orang beroleh keselamatan, dan tak satupun harus binasa.

'Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu' (Mal 3: 2). Simeon termasuk orang yang harus dibanggakan, karena memang dia mampu berhadapan, dan bahkan membopong sang Bayi kudus itu. Dia benar-benar orang yang tahan berdiri di hadapanNya. Apakah kita boleh membandingkan kesucian orang kudus satu ini dengan para gembala dan para Majus dari Timur? Secara ritual, Simeon tentunya lebih kudus daripada mereka semua, tetapi kiranya Tuhan sendiri yang lebih tahu isi hati setiap orang, sebab kita hanya memandang wajah dan rupa seseorang, tetapi tidaklah demikian dengan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan.

Patutlah kalau kita bersyukur bersama pemazmur dengan berseru: 'angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Siapakah itu Raja Kemuliaan? TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!' (Mzm 24: 7-8)

  

Oratio

Ya Yesus Kristus, merupakan anugerah bagi kami dapat mengenal serta mengalami kasihMu. Kiranya kamipun mampu meneladani sikap hidup Simeon dalam mendapatkan keselamatan daripadaMu dan berani menyatakan, bahwa Engkaulah Mesias Penyelamat umat manusia. Amin

 

 

Contemplatio

'Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'.















Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010