Rabu Pekan Biasa V, 7 Februari 2018

1Raj 10: 1-10 + Mzm 37 + Mrk 7: 14-23

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

 

Meditatio

Suatu hari Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: 'kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya'. Sebuah penyataan yang mengagetkan tentunya. Bukankah dalam hukum Taurat ada banyak aturan yang melarang orang untuk menikmati makanan-makanan haram? Bukankah aneka penyakit juga berasal dari luar diri manusia?

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: 'apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?'. Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Yesus memperbaharui apa yang tersurat dalam Imamat bab 11. Najisnya seseorang bukan karena makanan, walau tak dapat disangkal makanan amat mempengaruhi kesehatan seseorang. Bukankah fisik kita manusia itu amat lemah dibanding dengan aneka ciptaan lainnya?

Kata-Nya lagi: 'apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang'. Yang menajiskan seseorang memang yang membuat seseorang tidak layak di hadapan Tuhan. Dia tidak layak di hadapan Tuhan, karena dia mencari kepuasan diri, bertindak semena-mena dan jahat terhadap sesamanya. Fisik orang boleh sehat dan atletis, tetapi jikalau dia penuh keserakahan dan tidak mau tahu akan keberadaan orang lain, bahkan Tuhan, dia abaikan, maka adalah seorang najis. Sebaliknya, ada fisik seseorang yang lemah dan sakit, tetapi hatinya berkenan kepada Tuhan, karena dia penuh kepercayaan dan penyerahan diri kepadaNya.

Keluhuran seseorang memang juga tak dapat disangkal tampak dari kata-kata dan perbuatan seseorang. Itulah yang disaksikan oleh ratu Syeba terhadap Salomo (1Raj 10: 1-9). Mulut orang benar pun menampakkan hikmat yang berasal dari Tuhan.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar tidak mencari kepuasan diri yang membuat kami menjauh dariMu, tetapi bantulah kami, agar apa yang kami lakukan sungguh-sungguh seturut dengan kehendakMu yang mendatangkan kebaikan bagi kami dan sesama. Amin

 

Contemplatio

'Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya'.

 








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010