Senin Pekan Biasa VI, 12 Februari 2018

Yak 1: 1-11 + Mzm 119 + Mrk 8: 11-13

 

 

Lectio

Suatu hari muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

 

Meditatio

Suatu hari muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Berani juga mereka berhadapan dengan sang Guru. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Apakah mereka meminta tanda itu secara tiba-tiba karena tak mampu menghadapiNya? Atau memang direncanakannya? Kiranya permintaan tanda menegaskan, bahwa mereka tidak percaya dan meminta bukti bahwa apa yang disampaikanNya diragukan dan tidak dipercayai mereka. Tentunya kita ingat akan peristiwa Zakharia yang meminta tanda dari Tuhan Allah, bahwa isterinya akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Bisu dan tak dapat bicara adalah tanda yang diberikan Tuhan kepada Zakharia.

Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: 'mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda'. Mengapa Yesus tidak mau memberikan tanda kepada mereka? Apakah karena tanda yang diminta orang yang tidak percaya itu seringkali berbentuk hukuman? Yesus sendiri yang berani menjadi tanda keselamatan Allah juga ditampakkan sebagai orang terhukum di depan mata banyak orang. Meminta tanda adalah bukti ketidakpercayaan seseorang akan Tuhan sang empunya kehidupan. Dia meminta bukti kepada Dia yang adalah Roh itu; sebaliknya seseorang yang percaya kepadaNya malah diajak untuk berani menikmati hikmat yang berasal daripadaNya sebagaimana diajarkan Yakobus sebagaimana tersurat dalam bab 1: 'apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya' (Yak 1: 5-8). Permintaan hikmat kepada Allah malah menunjukkan ketidakberdayaan kita manusia, lalu mengandalkan kekuatan daripadaNya. Hikmat dari Allah itu bagaikan madu (st.Bernardus) dan bukan sekedar makanan biasa yang tidak bergizi.

 Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk berani menikmati hikmatMu, di mana Engkau sendiri yang menjadi tanda keselamatan bagi kami. Belajar dari Zakharia, bahwa apa yang difirmankan kepadanya adalah ya dan amin. Terima kasih ya Yesus atas rahmat kasihMu ini. Amin

 

Contemplatio

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda'.















Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Senin Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2017

Selasa XXX, 26 Oktober 2010